Drogba-Lampard dan Gol-Gol Yang Mengubah Chelsea Jadi Tim Terbaik Inggris

Ketika menyebut nama orang yang membuat Chelsea ke puncak sepak bola di negeri ratu Elizabeth di awal-awal abad 21, mayoritas mungkin akan mengatakan dua nama yakni si kaya Roman Abramovich dan si jenius Jose Mourinho.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Chelsea memang telah banyak berutang budi terhadap pemilik asal Rusia yang kaya dan Pelatih asal portugal tersebut atas berbagai kesuksesan yang telah di capainya.

Di sebuah klub di mana uang dapat membeli segalanya, dan pelatih berperan sangat penting, tapi sesungguhnya bintang-bintang di lapanganlah yang merupakan elemen paling menentukan dari sebuah tim ketika Juara. 

Dan tidak diragukan lagi, di Chelsea, ada dua nama paling menonjol yaitu Didier Drogba dan Frank Lampard. Selama berbaju The Blues, keduanya merupakan aktor penting di atas lapangan. Gol, assist, dan kerjasama yang apik mengantarkan Chelsea kepada kejayaan.

Frank Lampard adalah yang pertama tiba di London ketika didatangkan dari West Ham pada tahun 2001. Lampard langsung tampil gemilang dimusim pertamanya, namun ia benar-benar mulai membuat nama untuk dirinya sendiri dengan kedatangan Mourinho pada tahun 2004. 

Mourinho tiba di Chelsea dengan status sebagai juara Liga Champions bersama klub yang tidak diunggulkan, FC Porto. Di tahun yang sama Chelsea juga mendatangkan Didier Drogba yang tampil mengesankan saat membawa Marseile menjadi runner up Piala UEFA 2003/04.

Chelsea bahkan mengeluarkan uang sebesar 40 juta paun atau sekitar Rp 600 miliar lebih untuk memboyong pemain Pantai Gading ini ke Stamford Bridge. Dan sama seperti Lampard, Drogba juga mampu membuktikan dirinya sebagai aset yang tak ternilai di musim pertamanya.

Lampard dan Drogba mencetak total 25 gol ketika Chelsea memenangkan liga primer dengan capaian rekor, yakni mengumpulkan total poin tertinggi dalam sejarah Liga Primer dengan 95 poin.

Lampard menyelesaikan musim tersebut sebagai pencetak gol terbanyak Chelsea, dengan 19 gol di semua kompetisi, termasuk gol melawan Bolton yang akan menyegel gelar liga inggris pertama Chelsea dalam 50 tahun terakhir.

Selain juara liga primer, Chelsea juga menjadi pemenang di Piala Liga setelah menundukkan Liverpool di final, Drogba menjadi penentu kemenangan lewat golnya di babak perpanjangan waktu yang membuat timnya menang 3-2. Pada musim itu, Drogba secara total mencetak 16 gol dari 40 penampilan.

Pada musim selanjutnya yakni 2005/06, Lampard menambah jumlah golnya menjadi 20 gol di semua kompetisi, 16 di antaranya di liga primer, di mana Chelsea mempertahankan trofi. 

Selain itu, Penampilan apik Lampard bersama The Blues membuatnya mendapatkan tempat di antara pemain terbaik saat ia finis kedua di Ballon d’Or tahun 2005 dibawah Ronaldinho.

Pada musim 2006/07 trofi Liga Primer memang tidak dalam genggaman Chelsea, tapi kompetisi domestik yang lain tetap mereka raih. Yakni Piala FA dan Piala liga, hal itu memastikan bahwa Chelsea tidak menyelesaikan musim dengan tangan kosong ketika Drogba akhirnya mengalahkan Lampard sebagai pencetak gol terbanyak klub.

Drogba berhasil membuat 33 gol di semua kompetisi pada musim tersebut, dengan 20 golnya di Liga Primer membuatnya mendapatkan sepatu emas. Sementara Lampard hanya mencetak 21 gol di semua kompetisi.

Drogba juga terbukti menjadi pemain penting atas keberhasilan Chelsea meraih dua gelar piala tersebut. Ia mencetak dua gol di final Piala Liga melawan Arsenal dan bersama dengan Lampard mencetak gol untuk merebut trofi Piala FA melawan Manchester United.

Pada akhir tahun 2007 Chelsea ditinggal oleh Jose Mourinho. Avram Grant kemudian mengambil alih kursi pelatih. Pada akhir musim 2007/08 Chelsea finis hanya selisih dua poin dari MU di liga primer,selain itu, mereka juga lolos ke final piala liga dan liga champions.

Di piala liga, Drogba menjadi pemain pertama yang mencetak gol di tiga final berbeda, meskipun pada akhirnya Chelsea harus akui keunggulan Totenham Hotspurs.

Sementara di Liga Champions, gol-gol dari Drogba dan Lampard di semifinal mampu menyingkirkan Liverpool untuk mencapai final pertama mereka. Chelsea kemudian berhadapan dengan MU di final yang berlangsung di Rusia.

Lampard menyamakan kedudukan setelah timnya tertinggal oleh gol sundulan Ronaldo. Sayang, Chelsea gagal setelah kalah lewat adu penalti.

Pasca musim tanpa gelar, Chelsea melanjutkan perjalanan di musim-musim berikutnya, mereka menggondol trofi piala FA musim 2008/09, lagi-lagi duet serasi Lampard dan Drogba menjadi aktor, gol dari kedua pemain tersebut mengantarkan Chelsea mengalahkan Everton 2-1.

Menyusul satu setengah musim dengan empat pelatih berbeda, petinggi Chelsea akhirnya merekrut pelatih asal Italia yang berpengalaman, Carlo Ancelotti pada musim panas 2009. Para petinggi klub berharap Ancelotti mampu membawa Chelsea ke dalam trek yang lurus.

Dan Ancelotti berhasil melakukannya, ia membawa Chelsea keluar sebagai juara liga primer ketiganya di abad 21 dengan melesakkan total 103 gol dengan hampir setengah dari total gol diciptakan oleh Drogba dan Lampard.

Kala itu, Drogba membuat 29 gol sedangkan Rekannya menciptakan 22 gol. Penyerang pantai gading pun meraih sepatu emas untuk kedua kalinya. Musim 2009/10 bisa dibilang sebagai musim terbaik Drogba bersama Chelsea. Ia menyelesaikan musim dengan 37 gol di semua kompetisi, sebuah rekor klub untuk pemain dalam satu musim.

Gelar liga primer terasa manis karena dilengkapi dengan Trofi piala FA, ketika tendangan bebas Drogba membobol gawang Portsmouth di laga final dan menjadi satu-satunya gol yang tercipta.

Musim kedua Ancelotti dilalui tanpa sebuah gelar, hingga ia pun digantikan oleh Andre Villas Boas. Namun, tak sampai satu musim, Villas Boas langsung dipecat karena dianggap gagal. Roberto Di Matteo kemudian di tunjuk sebagai suksesor pada februari 2012.

Hasilnya pun sempurna, pelatih Italia berhasil bawa The Blues raih trofi Liga Champions untuk pertama kalinya. Chelsea menang lewat adu penalti melawan FC Bayern setelah skor imbang bertahan selama 120 menit.

Tanpa Drogba Chelsea mungkin akan kalah, pasalnya Drogba mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1 di menit-menit akhir babak kedua. Dalam perjalanannya meraih gelar Liga Champions, Drogba dan Lampard silih berganti mencetak gol.

Pertandingan final yang berlangsung di Allianz Arena itu menjadi yang terakhir bagi Drogba, karena di musim selanjutnya ia hengkang ke Shanghai Shenhua. Setelah sempat mencicipi Liga Turki bersama Galatasaray, Drogba kembali merumput di Stamford Bridge musim 2014/15.

Pada saat itu Lampard juga pindah, setelah memenangkan gelar Liga Europa 2013 dan juga menjadi top skorer sepanjang masa klub dengan 211 gol. Pada tahun 2014 Lampard hijrah ke Man City.

Saat kalian melihat CV Frank Lampard dan Didier Drogba, kalian akan melihat daftar catatan dan sederet trofi yang sangat menakjubkan. Ketika Chelsea meraih Piala FA kedelapan mereka pada akhir musim 2017/18, itu adalah gelar ke 17 di era Roman Abramovich, dengan Drogba dan Lampard membantu klub memenangkan 14 gelar tersebut, 11 di antaranya bermain langsung satu sama lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *