Pemanasan menjadi satu hal yang wajib untuk selalu dilakukan sebelum memulai aktivitas olahraga, supaya tubuh tidak kaget saat melakukan aktivitas fisik yang berat. Bayangkan otot yang masih dalam kondisi dingin dan rileks, tiba-tiba digunakan untuk berlari kencang.
Otot pun akan kaget dan bisa menyebabkan cedera ringan atau bahkan kram. Otot yang kram akan terasa sakit, tertarik, dan terjepit, sehingga membuat kegiatan olahraga menjadi terhambat.
Beberapa orang bahkan menganggap Pemanasan sebagai keharusan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Seorang atlit termasuk pesepak bola pun demikian, saat hendak bertanding atau berlatih sebaiknya lakukan pemanasan terlebih dahulu.
Dalam sepak bola, melihat pemain pengganti berlari-lari di sepanjang touchline atau mengikuti aksi saat melakukan latihan peregangan adalah dua hal yang biasa terjadi selama pertandingan.
Bagi sebagian besar penggemar, kegiatan ini mungkin terlihat relatif tidak berbahaya dan tidak terlalu berat, tetapi para ahli sepakat bahwa pemanasan sebelum pertandingan memainkan peran penting dalam meningkatkan kinerja pemain dan mengurangi risiko cedera.
Biasanya tiga puluh menit jelang kick off dimulai para pemain sepak bola melakukan pemanasan di tengah lapangan dengan ditemani asisten pelatih ataupun fisoterapi mereka.
Tapi tahukah kamu footballovers budaya itu ternyata adalah hal yang baru dalam sepakbola.
Sampai dekade 1960-an, lazimnya para pemain melakukan pemanasan di ruang ganti. Pemanasannya pun hanya lari-lari kecil atau pemanasan ringan tanpa menggunakan bola. Dan di negara Inggris-lah budaya itu di dobrak lewat artis terkenal Paul Trevillon.
Pada dekade 1960-an Paul berkunjung ke Amerika Serikat untuk belajar pemasaran olah raga. Setelah kembali ke Inggris pada dekade 1970-an, Paul yang merupakan seorang fans Leeds United menyarankan pengelola klub untuk melakukan pemanasan di depan para penonton menjelang kick off. Di masa itu hal ini adalah sesuatu yang tabu atau masih asing.
Paul beranggapan sarannya ini akan mendekatkan pemain dan penggemar tak hanya saat pertandingan dilakukan saja. Namun juga sebelum pertandingan.
Tak hanya itu berkat saran Paul, di sela-sela pemanasan Leeds mulai membagi-bagikan kaos kaki yang bertanda-tangan pemain kemudian melemparkannya kepada penonton. Apa yang dilakukan Leeds ini memang efektif, jumlah penonton mereka pun semakin hari semakin meningkat.
Kesuksesan yang dilakukan Leeds ini mulai ditiru oleh klub-klub lainnya. Dan ternyata sejarah pemanasan di dalam lapangan bukanlah didasari oleh iming-iming akan kesadaran terhadap ilmiah, tapi kesadaran bahwa pemasukan uang bagi klub adalah segalanya.
Di sepak bola modern kita telah melihat banyak pemain yang melakukan pemanasan di dalam stadion jelang sepak mula. Hal itu menjadi sangat penting, selain menyiapkan fisik juga membantu tim lebih dekat dengan para penggemar.






