Ada ungkapan bahwa pesepakbola harus memiliki gaya hidup sehat dan jauh dari kebiasaan-kebiasaan yang bisa merusak tubuh. Namun sepertinya hal ini tidak berlaku bagi seorang Dario Hubner. Dirinya dikenal sebagai pencetak gol terhebat paling “aneh” pada masanya.
Jika kalian membantah, nyatanya karier Dario Hubner memang begitu adanya. Ia dikenal sebagai pemain yang hobi memproduksi “asap” namun tetap rajin mencetak gol. Dalam hal ini, Dario Hubner memang miliki naluri mencetak gol yang luar biasa. Ia dikenal sebagai pemain pekerja keras demi tim yang dibelanya.
Tidak seperti Cristiano Ronaldo yang terus memperhatikan kondisi tubuhnya, Dario Hubner akan menghisap setidaknya sebungkus rokok per hari untuk merilekskan tubuhnya.
Rokok tak ubahnya menjadi sebuah candu bagi Hubner. Namun disisi lain, mencetak gol lebih menjadi candu bagi pria yang kini berusia 53 tahun tersebut.
Kebiasaan merokok Hubner tidak hadir begitu saja. Sesuatu yang digemarinya itu muncul karena ia sering berkumpul dengan para pekerja yang merokok.
Hubner bukanlah seorang lulusan akademi klub manapun di Italia. Bahkan sampai pada usia 18 tahun, dirinya masih berkutat dengan pekerjaan kasar sebagai buruh. Di lingkungan itulah Hubner mengenal rokok. Seperti kaum pekerja pada umumnya, rokok menjadi obat pelepas kepenatan setelah seharian bekerja keras membanting tulang.
Saat merokok itulah Hubner merasakan ketenangan. Kebiasaan merokoknya itupun berlanjut sampai ia benar-benar bergelut di dunia sepakbola.
Pada saat usianya menginjak 22 tahun, Hubner secara serius menggeluti dunia sepak bola. Ia bergabung dengan kesebelasan Serie D, Pievigina untuk memulai segalanya. Dari kesebelasan tersebut, ia lalu direkrut oleh sejumlah kesebelasan Serie C seperti Pergrocema dan Fano.
Hubner, sebagaimana diketahui, merupakan sosok pekerja keras. Ia akan secara profesional bergelut di lapangan hijau demi mencetak gol sebanyak-banyaknya. Hal itulah yang pada akhirnya membuat asap yang diproduksinya menjadi tak sia-sia.
Dibalik kepulan asap yang melambung di udara, ada sederet gol spektakuler karya Dario Hubner.
Saat masih tampil di kompetisi Serie D, ia memang hanya bisa mencetak 11 gol dari 30 penampilannya. Yang membuat klub lain tertarik kepada Hubner adalah daya juang serta gaya ngototnya ketika bermain. Dari perjuangan luar biasa serta kemauan keras yang memang sudah ada pada dirinya, Hubner, sang legenda Italia, mendapat julukan Si Bison.
Berkompetisi di Serie C membuat nama Hubner kian melambung tinggi. Bersama klub Fano, ia berhasil mencetak 25 gol dari 88 penampilannya. Berkat kerja kerasnya, di tahun 1992 Hubner berhasil naik tingkat lagi ke seri B bersama Cesena.
Satu hal yang diingat orang-orang kala itu adalah Hubner yang sebelumnya menjadi seorang pekerja bisa tampil di kompetisi Serie B hanya dalam waktu lima tahun saja.
Hal itu jelas bukan kebetulan belaka. Jika bukan karena bakat dan dedikasi tinggi terhadap klub yang dibelanya, hari-hari Hubner mungkin hanya akan diakhiri dengan sebatang rokok dan segelas kopi di malam hari.
Seterusnya, ia akan dengan keras membanting tulang selama 10 jam per hari.
Dario Hubner adalah sosok penyerang ganas. Namun ia tidak pernah bermain untuk tim raksasa. Mungkin itu menjadi faktor yang menyebabkan dirinya tak sering dibicarakan. Berbeda dengan Inzaghi yang punya karakter kuat saat bermain, atau Francesco Totti dengan totalitas serta kesetiaan luar biasa di tanah ibukota.
Dario Hubner, tak lebih dari seorang striker yang tugasnya hanya mencetak gol, untuk kemudian namanya menjadi cerita bagi para pecinta bola di seluruh dunia.
Bermain di Cesena, pesona Hubner kian diminati. Bersama klub tersebut ia sukses menjadi top skor seri B dengan 22 gol. Bagi Hubner, Cesena adalah momen terbaiknya. Pemain kelahiran Jerman ini mengaku kalau klub tersebut telah memberinya banyak ruang untuk ciptakan peluang.
Lima tahunnya bersama klub yang bermarkas di Dino Manuzzi itu dihabiskan dengan mencetak 74 gol dari 166 penampilan. Jumlah tersebut, jika dirata-rata, Hubner mencetak 0,45 gol per pertandingan.
Ia begitu senang saat berada di Cesena. Baginya, Cesena lebih dari sekadar klub sepak bola. Kesebelasan itu menawan, dan akan selalu menjadi cerita istimewa, yang barangkali bisa diteruskan kepada anak cucunya.
Akhirnya, saat usianya menginjak kepala 3, Serie A menjadi cerita baru dalam hidupnya.
Di Brescia, nama Roberto Baggio dan Andrea Pirlo menjadi rekan setim yang banyak membantunya. Di laga debutnya, Hubner bahkan langsung kejutkan dunia. Ia berhasil menjebol gawang Inter Milan, kawalan kiper legendaris, Gianluca Pagluica.
Hanya berselang sepekan, Hubner berhasil mencetak hattrick ke gawang Sampdoria. Terhitung sampai tahun 2001, ia catatkan 129 penampilan dan mencetak 75 gol untuk Brescia.
Setelah itu, ia putuskan bergabung dengan Piscenza dan mencetak 24 gol disana. Yang lebih indah, torehan gol Hubner berhasil menyelamatkan klub barunya dari jeratan degradasi.
Gelar capocanonieri pun disematkan kepadanya bersama dengan nama David Trezeguet dari Juventus, sebelum akhirnya usia memaksanya untuk pulang dan beristirahat.
Perlu diketahui, penghargaan pencetak gol terbanyak saat itu menjadikan Hubner sebagai pemain tertua dengan gelar capocannonieri sebelum dipecahkan Luca Toni diusia 38 tahun pada 2015 bersama Hellas Verona.
Sayang, di usia yang sudah terlanjur tua membuat pelatih Italia tak membawanya ke ajang Piala Dunia tahun 2002.
Setelah dua musim membela Piscenza, Hubner beberapa kali berpindah klub sebelum akhirnya bertemu dengan Cavanago pada 2010. Di tahun berikutnya, Hubner sudah merasa lelah dan putuskan pensiun dari hingar bingar sepak bola.
Etos pekerja Hubner menjadi rahasia bagaimana ia bisa menyesuaikan diri di setiap level sepakbola. Dan berkat keuletannya dalam berlatih, ia selalu bisa menyesuaikan diri baik itu bersama kesebelasan Serie D, Serie C, Serie B, hingga Serie A. Diperkirakan 300 gol lebih telah ia ciptakan di segala level.
Namun kembali lagi, usia tidak lagi bisa membohongi kualitas Hubner, apalagi ia merupakan seorang perokok berat.
Menurut mantan bosnya di Brescia, Luigi Corioni, Hubner sebenarnya punya bakat untuk menjadi penyerang terbaik Italia. Hanya saja kebiasaan merokoknya-lah yang membuat kariernya terhambat.
Walaupun begitu, Hubner sendiri tak menyesali bagaimana kariernya berjalan. Bahkan ia lebih mensyukuri apa yang telah ia torehkan selama ini hingga dikenal sebagai salah satu legenda di Italia.







