Hakan sukur, seolah menjadi pahlawan dari “permainan” turnamen Piala Dunia di Korea Jepang. Di ajang tersebut, ia menjadi salah satu penentu kemenangan negara yang beribukota di Ankara.
Hakan Sukur, sedari awal sudah menjadi tombol peledak bagi kehancuran Negri Ginseng. Tepat pada menit ke 10.8 detik, Hakan Sukur sukses menjadi pencetak gol tercepat dalam sejarah Piala Dunia.
Pertandingan itu digelar di Stadion Daegu pada Juni 2002. Kala itu wasit baru saja meniup peluit pertandingan. Namun sebuah gol sudah tercipta, setelah para pemain Korea kurang siap dalam menerima terkaman Hakan Sukur.
Kesalahan koordinasi di lini belakang Korea saat itu dimanfaatkan oleh penyerang bertinggi 191 cm. Gol yang tercipta pada detik ke 10,8 itupun menjadi yang tercepat. Selain itu, turnamen Piala Dunia 2002 menjadi yang terakhir bagi sang legenda Galatasaray.
Gol kilat Sukur itu mematahkan rekor yang sebelumnya dicatatkan striker Cekoslowakia Vaclav Masek. Kala itu, di fase grup Piala Dunia 1962, Masek menggetarkan jala Meksiko di detik ke-16.
Sampai hari ini, belum ada pemain lain yang mampu mendekati rekor Sukur sebagai pencetak gol tercepat dalam putaran final Piala Dunia. Meski bukan yang tercepat dalam sejarah sepakbola, nama Sukur tentu bakal selamanya tercatat dalam buku rekor Piala Dunia.
Meski tak pernah menjadi jawara di Eropa, setidaknya nama Hakan Sukur begitu harum di mata penggemarnya. Hakan Sukur begitu dicintai penggemar Galatasaray. Ia yang sempat melakoni karier di Inter Milan, sangat sukses saat berseragam Galatasaray.
Total, sejumlah trofi berhasil ia sumbangkan termasuk delapan trofi Liga Turki, enam Piala Turki, dan yang paling bernilai barangkali satu gelar Liga Europa pada musim 1999/00.
Hakan Sukur memulai debut profesionalnya bersama klub Turki, Sakaryaspor. Tiga tahun bermain disana, Hakan Sukur catatkan 41 penampilan dan mencetak 19 gol.
Setelah itu, sang striker memilih bergabung dengan Bursaspor, untuk kemudian membela raksasa Galatasaray. Pada tahun 1995, Hakan Sukur mulai mencicipi kompetisi diluar Eropa. Namun ia kembali lagi ke Galatasaray dan merengkuh banyak kesuksesan pada periode 1995 hingga 2000.
Seperti yang sudah diceritakan, piala terbaiknya bersama klub Turki mungkin saat menjadi jawara Liga Europa. Saat itu, bersama dengan nama-nama seperti Ergun Penbe, Umit Davala, hingga Geroge Popescu, Hakan Sukur dengan luar biasanya mengatasi perlawanan Arsenal dalam pertempuran selama 120 menit.
Skor kacamata selama dua jam berhasil dibalik menjadi 4-1 melalui drama adu pinalti.
Tepat setelah momen mengensankan tersebut, Hakan Sukur lantas dipinang raksasa Serie A, Inter Milan. Saat itu, ia mendapat kontrak dari Massimo Moratti untuk setidaknya mencetak satu gol dalam lima pertandingan. Namun, Sukur gagal melakukan itu. Dari 33 penampilan hanya enam gol saja yang berhasil mampir ke gawang lawan. Karena dinilai tak memuaskan, Sukur lalu dilego ke Parma.
Di Parma, Sukur juga tidak tampil tajam. Gagal tuai sukses di Parma, Sukur sempat membela Blackburn Rovers selama satu musim. Catatan golnya hanya mentok di angka dua.
Hingga tepat pada tahun 2003, ia kembali ke Galatasaray. Dan lagi-lagi, Sukur tuai kesuksesan di kampung halamannya sendiri. Ia seakan tak cocok untuk merantau. Prestasinya tersungkur di liga-liga asing.
Nama Hakan Sukur akan selalu dikenang sebagai salah satu pencetak gol handal. Diluar prestasinya yang gagal di luar kampung halamannya, pertunjukkan indah sang penyerang akan selalu membekas di hati para penggemar Turki.
Di masa kembalinya menuju Galatasaray, Hakan Sukur berhasil sumbangkan dua trofi Liga Turki, sebelum putuskan pensiun di tahun 2008.
Setelah pensiun, Sukur menggeluti dunia politik dan namanya kembali mencuat dalam beberapa tahun terakhir karena menjadi buronan pemerintah Turki.
Ya, nasib sang peyerang tak terlalu baik setelah terjun ke dunia politik. Kala itu, ia tergabung menjadi anggota Parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang merupakan kendaraan politik Erdogan.
Namun masalah mulai datang saat Sukur menerima banyak tawaran menjadi pundit di televisi, meski saat itu statusnya adalah politikus. Kontroversi lainnya tak kalah menghebohkan. Saat berada dalam sidang yang membahas anggaran pendidikan, Sukur meninju Haydar Akar, anggota parlemen dari partai oposisi CHP. Namanya pun kembali menjadi topik utama di Turki
Puncaknya saat Sukur diketahui mengundurkan diri dari AKP yang notabene ada sosok Erdogan yang bercokol di sana. Tak lama setelah itu, nama Sukur semakin disorot menyusul cuitan kontroversialnya di laman Twitter. Saat itu, dilaporkan Sukur telah menghina sang presiden dan anaknya. Ia pun didakwa. Kemudian, Sukur melalui gerakan Gulen dituduh sebagai dalang dari percobaan kudeta gagal pada 15 Juli 2016. Alhasil, seluruh pendukungnya, termasuk Sukur, dikenai surat penahanan dari pemerintahan Erdogan. Sukur pun memilih mengasingkan diri ke luar negeri.
Tak hanya diancam penjara, seluruh harta kekayaannya dan milik sang ayah yang mencapai 200 juta Lira disita oleh pemerintah pada 2017. Dengan begitu, ia terancam tidak bisa kembali ke tanah kelahirannya.
Kini, Sukur dikabarkan berdomisili di Amerika Serikat dan menjalankan usaha restoran. Sukur pun harus menerima kenyataan pahit sebagai pahlawan sepakbola yang diasingkan negaranya sendiri.







