Pria beranak tiga ini bernama lengkap Javier Adelmar Zanetti, Ia lahir di Buenos Aires, Argentina pada 10 Agustus 1973. Pesepak bola yang nyaris bergabung dengan Manchester United di awal karirnya ini akhirnya menghabiskan 19 Tahun massa baktinya bersama Internazionale Milano. Dengan 15 musim diantaranya dilalui sebagai kapten.
Zanetti berhenti bermain sepak bola di usia 41 sebagai seorang full back dengan mempersembahkan 16 gelar diantaranya yaitu 5 Scudetto, 4 piala super Italia, 4 Coppa Italia, 1 liga champions, 1 Piala Dunia antar Klub dan 1 Piala UEFA.
Tercatat 858 laga, 21 gol, dua dekade, dan sebuah kejayaan, sudah dipersembahkan Javier Zanetti untuk sang kekasih, Inter Milan. Bahkan ketika menyatakan dirinya pensiun pada tahun 2014, ia tak benar-benar meninggalkan belahan hatinya. Saat ini, Zanetti menjabat sebagai Wakil Presiden Inter.
Sebelum menjadi pesepak bola hebat dan menjelma jadi legenda Inter, perjalanan karir Zanetti terbilang tidak selalu mulus. Saat kecil, Zanetti hanya menjadikan sepak bola demi sebuah kesenangan bukan sebuah cita-citanya. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai serius menganggap sepak bola sebagai jalan hidupnya.
Zanetti merupakan anak dari tukang bangunan dan tukang bersih-bersih. Ia tumbuh dan berkembang di sebuah wilayah di Argentina yang disebut Dock Sud. Lingkungan tempatnya berkembang bukan lingkungan berasa, mewah.
Namun, di tengah kesulitan tersebut, warga Dock Sud justru begitu dekat satu sama lain, saling membantu. Dari kehidupan serba kekurangan, Zanetti belajar soal tenggang rasa dan perjuangan.
Zanetti lalu mengawali karier di tim Junior Independiente pada 1982 hingga 1989. Di klub itu, ia bermain sebagai striker. Posisi yang cocok dengan karakternya. Ia suka dribel, menusuk ke kotak penalti dan melepas umpan silang.
Namun, seiring berjalannya waktu, posisi Zanetti terus berubah. Pertama ia jadi gelandang, lalu digeser lagi sebagai pemain belakang. Masa suram mendatangi Zanetti ketika ia dikeluarkan dari Independiente karena dinilai terlalu kurus.
Setelah “ditendang” dari akademi, ia membantu ayahnya bekerja di proyek bangunan. Dari sini, Zanetti belajar soal kerja keras lebih dalam lagi. Meski begitu, tak lama berselang, ia bergabung dengan klub Talleres.
Di klub tersebut, Zanetti menandatangani kontrak profesional pertamanya. Lalu pada 1993, ia pindah ke Banfield dan mendapat panggilan pertamanya di Tim Nasional Argentina satu tahun kemudian.
“Pada suatu malam ketika kami sedang tur di Afrika Selatan bersama Timnas Argentina, Pelatih Daniel Passarella mengetuk pintu kamarku. Dia bilang: ‘Javier, Inter Milan ingin membelimu’,” kenang Zanetti (Dikutip dari Fedenerazzura.net)
Zanetti pun kaget. ia tak percaya raksasa Italia seperti Inter Milan tertarik dengan dirinya. Saat itu, Massimo Moratti baru saja terpilih sebagai Presiden klub. Zanetti menjadi pemain pertama yang ingin dibeli raja minyak Italia tersebut.
Keputusan Moratti bukannya tanpa kontroversi. Sebagai klub besar yang ingin merajai Eropa, keputusan Inter membeli pemain tak jelas dari Argentina dinilai sebagai kecerobohan. Namun, Zanetti membuktikan bahwa Moratti tak salah memilihnya.
“Saat itu, Inter membeli beberapa pemain muda. Selain aku, Inter juga membeli Roberto Carlos (Brasil), Sebastian Rambert (Argentina) dan Paul Ince. Karena kuota pemain asing sudah penuh, aku mengira akan dipinjamkan. Karena aku paling tak dikenal.” Kenang Zanetti (Dikutip dari Bleachereport)
Roberto Carlos saat itu merupakan bakat muda terbaik Brasil. Sementara Rambert terus dipromosikan media massa Italia berkat gol fantastisnya di Argentina. Adapun Ince merupakan salah satu gelandang terkuat Eropa.
“Sementara aku hanyalah pemain tak dikenal. Namun begitu, kenyataannya aku bertahan dan terus bermain.”
Pada 27 Agustus 1995, Zanetti melakoni debutnya bersama Inter dan pada 1999 ia terpilih jadi Kapten. Selama di Inter, Zanetti membuktikan bahwa ia pemain serbabisa. Ia hampir menempati semua posisi di lapangan. Mulai dari bek kanan, bek kiri, bek tengah, gelandang tengah, sayap kanan, sayap kiri dan penyerang kanan.
Namun, tahun-tahun awal Zanetti di Inter tak terlalu berjalan sukses. Trofi pertamanya baru ia raih pada 1998 yakni Piala UEFA. Meski pernah digoda Real Madrid, namun Zanetti memilih bertahan di Nerazzurri.
Selama 19 tahun karir bermain di Inter, Zanetti telah dilatih 17 manajer yang berbeda. Beberapa diantaranya adalah Roy Hodgson, Marcelo Lippi, Hektor Cuper, Rafael Benitez, José Mourinho dan Roberto Mancini, mereka semua telah menjadikan Zanetti menjadi andalan di sektor belakang Inter.
Musim terbaik Zanetti bersama Inter bisa dibilang saat dirinya berusia 36 tahun pada 2009/10, ketika itu dibawah asuhan Jose Mourinho, Zanetti memimpin rekan-rekannya meraih tiga gelar sekaligus, Serie A, Copa Italia, dan yang paling berkesan trofi liga Champions. Di musim itu, Zanetti tampil sebanyak 55 kali.
Sosok yang sederhana dan rendah hati ini dianggap oleh beberapa kalangan sebagai pemain terbaik yang pernah membela Inter. Ia pun begitu dihormati sebagai seorang kapten yang memberi contoh baik di dalam dan luar lapangan.
Di Tim nasional Argentina, Zanetti pun punya rekor spesial meski prestasinya bersama timnas dilaluinya penuh cobaan. Namun dengan jumlah caps yakni 143 dengan torehan 5 gol, adalah sebuah bukti dedikasinya terhadap negaranya. Torehan tersebut juga menempatkan dirinya di urutan kedua daftar pemain yang paling sering tampil memperkuat timnas dibelakang Javier Mascherano.







