Maradona tak pernah berhenti meredupkan sinarnya dalam dunia sepakbola. Seberapa banyak pemain anyar bermunculan, seberapa banyak bakat kagumkan ribuan pasang mata, dan seberapa banyak tarian indah menghiasi lapangan, itu semua tidak akan pernah mampu singkirkan nama Maradona, dalam genggaman dunia.
Tepat pada 30 Oktober 1960, atau sekitar 59 tahun lalu, pemain legendaris dari Argentina bernama Diego Armando Maradona dilahirkan ke dunia. Ia lahir di kota Lanus, namun banyak menghabiskan masa kecil di Villa Fiorito, sebuah daerah di selatan Buenos Aires.
Tumbuh di tengah-tengah daerah miskin ibukota, Maradona masih dapat menikmati permainan yang begitu ia suka, yaitu sepakbola. Pada usia 10 tahun, ia bergabung dengan tim youth Argentinos Juniors. Klub ini pun menjadi klub profesional pertamanya setelah ia menandatangani kontrak profesional dengan Argentinos pada 1976. Bersama Argentinos, Maradona catatkan 167 penampilan sebelum pindah ke Boca Juniors pada 1981.
Nama Maradona mulai dikenal di tahun 1982, tepatnya di gelaran Piala Dunia. Meski tak mampu mengantarkan Argentina menjadi juara, kemampuannya tersebut berhasil memikat perhatian Barcelona. Dengan mahar lima juta pounds, Maradona pindah ke klub Katalunya.
Meski catatkan sejumlah prestasi gemilang termasuk Copa del Rey dan Piala Super Spanyol, perjalanannya di Barcelona tak benar-benar membahagiakan. Mulai dari divonis penyakit hepatitis, cedera engkel yang parah akibat tekel keras oleh pemain Athletic Bilbao Andoni Goikoetxea, hingga kerap bersitegang dengan presiden klub, Josep Lluis Nunez, Maradona pernah mengalami itu semua.
Karena tak krasan dan ingin segera hengkang, Maradona akhirnya ditaksir oleh klub Serie A, Napoli. 5 Juli 1984 menjadi hari yang tak terlupakan bagi Napoli. Hari itu, Diego Armando Maradona resmi hijrah ke Italia. Alih-alih bersepakbola di belahan Italia Utara yang jauh lebih makmur, dengan kesebelasan-kesebelasan bergelimang harta, sejarah dan pemain top, Maradona lebih memilih merumput di Selatan Italia.
Kedatangan Maradona ke Kota Naples kala itu bak Dewa. Ia dipuja, disambut bahagia, dan banyak penggemar yang menaruh harap dipundaknya.
Meski begitu, kedatangan Maradona ke Napoli tak langsung membuka cerita.
Maradona mulai benar-benar dikenal dunia pada gelaran Piala Dunia 1986. Dalam ajang yang digelar di Meksiko tersebut ia menjadi kapten timnas Argentina dan bermain penuh untuk timnas. Ia juga sukses mencatatkan lima gol dan lima asis, termasuk dua gol legendaris dalam pertandingan delapan besar melawan timnas Inggris, yang membuatnya sukses mencatatkan diri sebagai salah satu pesepakbola terbaik di dunia sekaligus membawa Argentina menjadi juara dunia.
Kesuksesannya di Piala Dunia inilah yang pada akhirnya mengular ke level klub. Di musim 1986/87, atau dua tahun setelah kedatangannya. Napoli berhasil memutus kesuksesan tim-tim dari Italia Utara. Saat itu, Maradona dibantu bek muda, Ciro Ferrara, serta rekrutan anyar Andrea Carnevale dan Fernando De Napoli untuk meraih trofi Serie A.
Pada hari itu, tepatnya 10 Mei 1987, berlangsung pertandingan pekan ke-29 Serie A 1986/87 di Stadion San Paolo antara Napoli kontra Fiorentina. Skor sama kuat 1-1 sejak menit ke-30. Di sisi lain, rival utama I Partenopei dalam memperebutkan Scudetto, Juventus, tengah bermain dengan skor yang sama.
Para pendukung Napoli yang hadir di Stadion San Paolo terus melirik jam besar di papan skor. Detik demi detik terasa bagai tahun bagi mereka, karena menantikan peluit berbunyi tanda pertandingan berakhir.
Wajar bila para pendukung tidak sabar menunggu pertandingan berakhir. Mereka juga berharap Juventus tidak menambah gol hingga menit akhir pertandingan.
Akan tetapi, hari itu doa masyarakat Kota Naples terjawab, wasit meniup panjang peluit tanda pertandingan terakhir. Pada saat yang sama, Hellas Verona mampu menahan Juventus dengan skor 1-1.
Hari itu, seluruh pendukung Napoli langsung turun ke lapangan untuk merayakan Scudetto pertama sepanjang sejarah klub. Suar api dinyalakan di tribun-tribun Stadion San Paolo, seolah Gunung Vesuvius kembali mengeluarkan laharnya. Mereka langsung mencari pahlawan mereka, pemuda asal Argentina, Diego Armando Maradona.
Pilihan-pilihan Maradona membuat orang-orang di Argentina dan Kota Naples menganggapnya lebih dari sekadar pesepak bola. Mereka merasa Maradona adalah pemimpin, bahkan dewa.
Bersama Napoli, Maradona sukses meraih dua gelar Serie A (1987 dan 1990), serta satu gelar Piala UEFA (1989). Ia lalu pindah dari Napoli pada 1991 untuk bergabung dengan Sevilla dari 1992 sampai 1993, sebelum akhirnya mudik ke Argentina. Di Argentina, Si Tangan Tuhan membela Newell`s Old Boys pada (1993) dan Boca Juniors (1995 sampai 1997) sebelum akhirnya memutuskan pensiun.
Sejak berdiri pada 1 Agustus 1926, Napoli tercatat memenangi 10 trofi bergengsi, termasuk Scudetto, Coppa Italia, Supercoppa Italiana, dan Piala UEFA. Dari jumlah tersebut, setengahnya diraih bersama Maradona.
Kesuksesan pria Argentina bersama Napoli belum pernah terulang sejak dia pergi dari Kota Naples pada 25 Maret 1991. Sejak kepergian Maradona, Napoli belum pernah kembali merasakan gelar Scudetto atau kompetisi antarklub Eropa.
Bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan, kebanggaan rakyat Naples kepada Maradona juga dibalas oleh sang legenda. Saat resmi putuskan pensiun, Maradona menganggap Naples sebagai bagian terbaik dalam hidupnya.
“Naples akan selalu menjadi rumah kedua bagiku,”
“Mereka adalah keluargaku. Dan aku akan selalu mencintai mereka” (dikutip dari thesefootballtimes).







