Dennis Bergkamp akan selalu dikenang sebagai seorang seniman sejati. Sayatan kakinya yang mampu mengiris pertahanan lawan seolah menguatkan anggapan bahwa Bergkamp merupakan salah satu penyerang terbaik yang pernah ada.
Sepanjang kariernya sebagai seorang filsuf lapangan hijau, Bergkamp telah menelurkan sejumlah karya tak ternilai. Di Arsenal, ia menjadi seniman sejati yang karyanya tak akan pernah dilupakan penggemar gudang peluru.
Bergkamp pernah mencetak gol sensasional ke gawang Leicester City ketika ia berseragam Arsenal, yakni pada 27 Agustus 1997. Ia bahkan mampu mencetak hattrick di pertandingan yang berakhir imbang 3-3 itu.
Gol pertama dilakukan dengan sepakan jarak jauh, dari depan kotak penalti, dan bola menjurus ke pojok gawang. Gol kedua terlebih dahulu dengan melewati penjagaan seorang bek, Matt Elliott, dan kemudian mengecoh kiper Kasey Keller.
Sementara gol ketiga adalah yang ikonik karena setelah menerima umpan panjang dengan kaki kanan, berpindah kontrol dengan kaki kiri, kemudian bergerak satu langkah dan melepaskan sontekan ke pojok gawang.
Di timnas Belanda, Bergkamp juga tak mau kalah dalam keluarkan magisnya.
Tepat pada 4 Juli 1998, bertepatan dengan hari ulang tahun Amerika Serikat dan entah berapa juta manusia di Bumi, ribuan pasang mata takjub dengan gol yang dicetak Bergkamp ke gawang Argentina.
Bergkamp menciptakan gol terindah yang pada akhirnya menjadi yang terbaik sepanjang kariernya.
Di pertandingan babak perempat-final yang berlangsung di Stade Vélodrome, Marseille itu, Belanda unggul lebih dahulu pada menit ke-12 lewat aksi Patrick Kluivert dengan finishing instingtif yang tipikal dari dalam kotak penalti. Lima menit berselang, Argentina mampu menyamakan kedudukan setelah Claudio Lopez mampu menaklukkan Edwin van der Sar.
Belanda terpaksa harus bermain dengan sepuluh orang setelah Arthur Numan mendapat kartu kuning kedua alias kartu merah pada menit ke-76. Ketika itu Bergkamp belum bermain bagus. Padahal, di putaran sebelumnya, di babak 16 besar, saat tim menang 2-1 atas Yugoslavia, ia bermain apik sekaligus ikut mencetak gol.
Pada laga itu, Argentina nampak akan keluar sebagai pemenang. Di menit ke 87, Ariel Ortega masuk ke dalam kotak penalti Belanda dan sempat bersentuhan dengan Jaap Stam sebelum terjatuh. Akan tetapi wasit tidak menunjuk titik putih sehingga tidak ada penalti.
van Der Sar yang mengklaim bahwa itu diving langsung menghampiri wasit untuk memprotes. Ortega tak terima, ia melompat dan mengarahkan dahinya ke dagu sang kiper, yang sampai terjatuh. Tindakan ini membuat Ortega harus mendapat kartu merah.
Hingga insiden itu terjadi dan pertandingan memasuki menit ke-89, belum ada lagi gol yang tercipta. Kedudukan masih imbang, 1-1, dan kedua tim harus bermain dengan sepuluh pemain.
Kedua supporter dua negara yang terus bising pun percaya kalau kedua tim tampil sama kuat. Mereka tidak akan merasa heran bila pertandingan akan dilanjutkan ke babak perpanjangan.
Namun Dennis Bergkamp mematahkan anggapan itu lewat gol indah yang dicetaknya pada menit ke-90, sama seperti saat mencetak gol indah ke gawang Leicester.
Prosesnya pun nyaris serupa. Di kotak penalti Argentina, Bergkamp menerima umpan panjang yang dilepaskan Frank de Boer dari tengah lapangan. Jaraknya cukup jauh, lebih dari 50 meter bila dihitung-hitung.
Ketika Roberto Ayala datang menghampiri untuk merebut bola yang dikontrol Bergkamp, dengan satu sentuhan pemain berjuluk Non-flying Dutchman itu langsung memindahkan bola ke arah kiri seraya tubuhnya ikut berpindah.
Bergkamp hanya butuh tiga sentuhan untuk bisa menjebol gawang Argentina yang dikawal Carlos Roa. Ia punya segalanya untuk mewujudkan gol itu, lewat kerjasama tim yang sempurna, plus visi, teknik, kecerdikan, serta ketenangan yang dimilikinya.
Sentuhan pertama adalah ketika ia menerima umpan jarak jauh. Kedua, Berkgkamp melalui kaki kanannya berhasil melewati penjagaan Roberto Ayala. Sentuhan ketiga dimanfaatkan dengan sontekan ke arah pojok kanan gawang, tanpa bisa dihalau sang kiper.
Terciptalah momen keindahan estetis!
Di kalangan pesepak bola, Bergkamp adalah pria baik-baik, maka ia pun memperlakukan bola di kaki kanannya itu dengan baik.
Tendangan tadi bukan tendangan sporadis. Ia tidak lahir tanpa pemikiran matang, tidak pula muncul dari frustrasi akibat kepungan lawan. Bergkamp, dalam waktu yang kepalang singkat itu benar-benar berpikir. Ia menafsir ruang, menghitung kemungkinan, dan mengambil keputusan.
Gol itu menjadi tambah terkenal berkat komentator sepakbola Belanda, Jack van Gelder. Saking takjubnya ia kepada gol itu, sampai-sampai Van Gelder menyebut nama “Dennis Bergkamp” hingga 10 kali dari mulai bola dilepaskan De Boer sampai kemudian Bergkamp melakukan perayaan.
Namun di turnamen tersebut, kejeniusan Bergkamp harus terhenti oleh keperkasaan Brasil saat berlaga di babak semifinal. Tim Oranye dikalahkan melalui adu penalti.
Akan tetapi, bagaimanapun, momen-momen terbaiknya merepresentasikan sepakbola dengan kedalaman akan selalu menjadi hal yang amat brilian. Bergkamp memiliki kapasitas supernatural untuk menciptakan level intelegensi, dan teknik permainan sepakbola menawan yang kita lihat selama ini.






