Kematian, adalah hal yang paling dekat dengan manusia. Tak ada yang pernah tahu kapan ajal menjemput, dan dalam keadaan apa seseorang mengakhiri hidup.
Dalam sepak bola, kematian menjadi hal yang boleh dibilang menjadi momok. Ketika akhir hayat datang ke gelanggang, sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Saat itu juga, maut lebih sigap dari tim medis yang sudah bersiap.
Permainan paling populer ini sudah menelurkan sejumlah nama yang meragang nyawa di lapangan. Sebut saja Patrick Ekeng. Pemain asal Kamerun ini mengalami kematian mendadak akibat masalah jantung yang didiagnosis sebagai hypertrophy cardiomyopathy.
Selain nama Patrick Ekeng, ingatan pecinta sepakbola akan pemain yang meninggal mendadak saat bermain juga tertuju pada Marc Vivin Foe di Piala Konfederasi pada 2003. Jangan lupakan pula kematian pemain Sevilla, Antonio Puerta, pada 2007, kala klubnya menjamu Getafe di La Liga.
Dari sifatnya yang mendadak dan tidak bisa ditebak, sepak bola Italia juga pernah berduka karena kematian seorang pemain sepak bola. Duka mendalam menyelimuti sepak bola Negri Pizza. Pada tahun 2012, seorang pemain klub Italia Serie B, Livorno, Piermario Morosini meninggal dunia akibat serangan jantung saat Morosini membela timnya melawan Pescara.
Morosini dikenal sebagai pribadi yang amat luar biasa. Bahkan, teman-temannya, menjulukinya sebagai pria berhati emas.
Simone Barone, pesepakbola Italia yang merupakan rekan Morosini mengatakan,
“Dia orang yang penuh senyum, meskipun ia mempunyai banyak masalah keluarga, Moro selalu tersenyum dan tidak pernah ingin masalah itu menganggunya, aku bangga telah mengenalnya,” (dikutip dari Joe.uk)
“Dia adalah pribadi fantastis yang selalu ingin menolong siapapun. Dia hidup untuk keluarganya.” imbuh Barone
Morosini mendapat tiga kali serangan jantung secara beruntun di lapangan yang menyebabkan dirinya kehilangan kesadaran.
Gelandang Livorno itu tiba-tiba saja jatuh pada menit ke-31. Morosini diduga tak sadarkan diri karena serangan jantung. Meski tim medis segera melarikan Morosini ke rumah sakit, tapi takdir berkata lain. Tuhan lebih memutuskan bahwa Morosini harus meninggalkan dunia si kulit bundar untuk selama-lamanya. Ia meninggal dunia di ambulans dalam perjalanan ke rumah sakit pada pukul 17:00 waktu Italia.
Di hari itu, Piermario Morosini menambah daftar pemain yang meninggal saat bergelut dengan si kulit bundar. Kematiannya bak gugurnya seorang ksatria yang tumbang di medan pertempuran.
Setelah tragedi mengenaskan itu, para pemain Livorno berkumpul untuk mengumpulkan barang pribadi milik Morosini untuk dikembalikan ke pihak keluarga. Pada konferensi pers di stadion Ardenza, salah satu perwakilan dari pemain Livorno mengatakan,
“Kami datang kesini untuk Mario Morosini, kalian harus memberi kami spirit agar kami kuat dan berpikir positif. Dia adalah teman yang baik dan kami harus melakukannya untuk dia… bukan hanya kata-kata.”
Para pemain Livorno kompak untuk membantu kehidupan kakak Morosini yang menderita sakit parah, dan hidupnya selalu bergantung pada Morosini, baik itu secara finasial maupun emosional. Kakaknya adalah satu-satunya keluarga yang masih hidup. Kedua orang tuanya meninggal dunia saat dia masih berusia 18 tahun, adiknya juga meninggal dunia dengan cara tragis, bunuh diri.
Saat rasa belasungkawa terus mengalir kepada Morosini, sang kekasih, Anna, mengucapkan rasa terimakasihnya pada semua pihak yang memberikan perhatian luar biasa.
Ia menuliskan surat terbuka yang ditujukan pada semua pihak yang memberikan penghargaan terhadap Morosini.
“Mario (Morosini) sangat menyukai bermain selagi hujan, karena menurutnya saat itu bola harus mendapat perlakuan spesial. Dia meninggal ketika bermain di tengah hujan,”
“Aku yakin dia bahagia. Olahraga dan bola itu memberikan arti bagi hidupnya. Hari ini, matahari dan kehangatan angin membelai wajahku dan semua wajah dari teman dan keluarga tersayangnya,” kata Anna. (dikutip dari football-italia)
Pasca kematiannya, Morosini mendapat penghormatan terakhir dari para pendukung Livorno di Stadion Atleti d’Italia. Ia pun mendapat penghormatan dari para suporter Atalanta di tempat kelahirannya, Bergamo. Setelah itu, jenazah mantan punggawa timnas Italia itu disemayamkan di kota kelahirannya.
Kematian seolah menjadi puncak nestapa bagi Morisini.
Sepanjang hidupnya, dia diselimuti kisah duka dan ketika kariernya belum mencapai sukses pada usianya yang ke-25 tahun, dia harus mengembuskan napas terakhirnya. Banyak yang mengulurkan tangan, tak terkecuali Udinese dan Livorno.
Kedua tim tersebut bersedia memberi bantuan finansial untuk keluarga Morosini.
Kisah duka memang seolah tak lepas dari perjalanan hidup Morosini. Lahir di Bergamo pada 5 Juli 1986, ia besar dalam lingkungan keluarga yang kurang mampu. Ditinggal sebagian besar keluarganya, Morosini terus berjuang melalui sepak bola.
Lewat sepak bola, dia ingin mengangkat hidupnya. Dia mencoba meniti karier sepak bola bersama Atalanta, kemudian dibeli Udinese. Sempat dipinjamkan ke Bologna dan kembali lagi ke Udinese, dia kemudian berpindah-pindah klub dari Reggina, Padova, Vicenza, dan terakhir memperkuat Livorno. Namun, ia masih tercatat sebagai pemain Udinese dan hanya menjadi pemain pinjaman di klub-klub tersebut.
Bermain di Liga Serie-B jelas bukan puncak karier. Dia masih bermimpi memperkuat klub Serie-A dan sukses, seperti halnya para legenda Italia. Pernah membela timnas Italia U-17, U-18, U-19, U-20, dan U-21, Morosini juga ingin suatu saat nanti membela timnas senior Italia.
Hanya dengan begitu mimpinya, juga mimpi orangtuanya, akan tercapai.
Namun lagi-lagi takdir berkata lain, ia tumbang dan tak mampu bangkit, untuk selama-lamanya.






