“Genggam bara api biar menjadi arang”
Sebuah pepatah yang berarti, segala sesuatu tidak ada yang instan. Artinya, kalian harus bersabar dan bekerja keras agar mendapatkan hasil yang maksimal. Pepatah ini juga mengajarkan betapa pentingnya menghargai sebuah proses.
Tanpa proses yang penuh rintangan, mustahil kita bisa mencapai titik tertinggi dalam hidup.
Pepatah itu tampak cocok untuk menggambarkan perjalanan berat Edinson Cavani demi menjadi seorang pesepakbola terkenal.
Cerita Cavani dimulai saat dirinya masih berusia 9 tahun. Cavani kecil tinggal di daerah bernama Salto. Penting diketahui pula, Cavani kecil sering mendapat panggilan “Pelado”, atau dalam bahasa Indonesia berarti “botak” dari para tetangganya.
Cavani bercerita kalau dulu orang tuanya tidak ingin memiliki anak berambut panjang. Jadi, setiap kali rambut Cavani tumbuh, orang tuanya langsung mengirimnya ke salon untuk memangkas rambut.
Karena sering berpenampilan botak itulah, para tentangganya gemar memanggil Cavani dengan sebutan Pelado.
Tapi, panggilan itu tiba-tiba hilang setelah Cavani menonton sebuah pertandingan sepakbola di televisi. Saat itu, Cavani lebih suka menonton pertandingan sepak bola daripada harus menghabiskan waktu untuk menonton serial Tom and Jerry.
Saat sedang menonton pertandingan sepakbola, ada satu sosok yang membuat Cavani kagum. Sosok itu adalah Gabriel Batistuta, mantan pemain sepakbola profesional asal Argentina.
Untuk para pecinta sepakbola era 90an pasti hafal betul dengan penampilan pemain berjuluk Batigol ini.
Sosok Gabriel Batistuta yang membawa bola sambil membiarkan rambutnya terurai membuat Cavani jatuh hati. Mantan bintang Fiorentina itu dianggapnya sebagai sosok inspirasi dalam bermain bola.
Mulai dari situlah, hidup Edinson Cavani berubah. Berkat uraian rambut sang legenda, Cavani bertekad merubah penampilan dan menjadi seorang pahlawan di lapangan hijau.
“Melihat Batistuta berlari dengan rambut terurai, merupakan hal paling menakjubkan yang pernah aku lihat!”
Kira-kira begitulah perkataan Cavani sewaktu melihat Batistuta untuk pertama kalinya.
Saat memutuskan untuk mengidolakan Batistuta, Cavani langsung ogah pergi ke salon. Dia mulai membiarkan rambutnya tumbuh, memakai condisioner milik ibunya, dan sedikit demi sedikit merubah tampilannya mirip dengan sosok Batistuta.
Cavani mulai bermain bola dengan tetangganya di lahan kosong dekat rumahnya. Ia menyebut kebiasaan ini sebagai “kehidupan orang amerika selatan”.
Ya, di Amerika Selatan anak-anak pinggiran, seperti Cavani, sering menghabiskan waktu diluar ketimbang harus bermain playstation dan menghabiskan waktu untuk menonton tv, kecuali pertandingan sepakbola.
Cavani dan teman sebayanya bermain sepakbola tanpa kenal waktu dan cuaca. Setelah bermain bola, Cavani biasanya mandi di sebuah bilik diluar rumahnya. Rumah semasa kecil Cavani memang tidak terdapat kamar mandi. Jadi dia harus keluar rumah untuk membersihkan seluruh badannya dari debu hasil bermain bola.
Meski jalani masa kecil yang sangat berat, Cavani tetap berkata kalau itu adalah memori terbaik dalam hidupnya.
Ketika tergabung dalam sebuah klub lokal di akademi masa kecilnya, Danubio, Cavani juga punya pengalaman yang sangat menarik.
Saat itu, pelatihnya di tim muda berkata, bagi siapa saja yang berhasil menjadi pencetak gol terakhir, maka dia berhak mendapat es krim gratis.
Mendengar penawaran itu, semua pemain termasuk Cavani langsung bersemangat. Mereka berusaha untuk mencetak gol demi bisa mendapat es krim gratis.
Saat itu, timnya sering menang dengan skor besar. Sebuah kebahagiaan bila pelatihnya terus berteriak “es krim” setiap ada pemain yang mencetak gol.
Menurut Cavani, para pemain menyebut momen tersebut sebagai “The Ice Cream Goal”.
Es krim dari sebuah gol dianggapnya sebagai sesuatu yang ajaib. Itu merupakan sebuah ide jenius. Dan itu murni sebuah motivasi!
Setelah tampil memukau selama kurang lebih lima tahun di tim muda, Cavani akhirnya masuk ke tim utama. Di musim debutnya, Cavani mampu sarangkan sembilan gol.
Hanya dua musim bermain di tim utama Danubio, Cavani langsung menarik minat dua raksasa Italia, AC Milan dan Juventus. Saat momen tersebut, Cavani langsung menangis haru. Ia tidak percaya jika dirinya akan bermain di kompetisi layaknya sang idola, Gabriel Batistuta.
Tapi mengejutkannya, Cavani malah taken kontrak dengan klub Palermo. Entah apa alasannya, dia hanya berfikir bahwa bermain di kompetisi Serie A saja sudah sangat membahagiakan.
Saat bermain di Italia, Cavani kembali mengingat masa kecilnya dulu yang datang dari daerah tak dikenal, bermain di tanah berdebu, hingga harus mencuci kakinya seusai bermain dengan teman sebayanya.
Kini, dia memakai sepatu dari brand kenamaan dunia hingga bermain di lapangan dengan rumput yang begitu sempurna. Dan tentunya, teriakan es krim dari sang pelatih telah berubah menjadi riuh penonton, saat dirinya sukses sarangkan bola kedalam gawang.
Setelah menjalani karier bersama Palermo, Cavani kemudian pindah ke Napoli. Disinilah bakatnya makin terlihat jelas. Dia menjadi penyerang handal dan sukses menarik minat klub-klub besar Eropa.
Setelah tentukan pilihan, Cavani akhirnya menjatuhkan destinasi ke klub Prancis, Paris Saint Germain. Sempat bersaing dengan Zlatan Ibrahimovic, Cavani akhirnya mampu rajai ujung tombak Les Parisians.
Di tahun 2018 lalu, Cavani sukses mencetak gol di laga melawan Montpellier. Satu gol yang diceploskannya ke gawang Montpellier membuat ia mampu cetak gol ke 157. Jumlah gol itu melewati catatan Zlatan Ibrahimovic yang mengemas 156 gol dari 180 laga saat masih berseragam PSG.
Selama berkarier sebagai pesepakbola profesional hingga sekarang, Cavani telah meraih gelar Copa Italia, 5 gelar Ligue one, 5 gelar piala prancis dan 5 gelar piala super prancis.
Selain itu, dia juga pernah meraih gelar top score sebanyak 5 kali.
Bak pepatah bijak yang menyebut “benih yang baik tak memilih tanah”, Cavani tetap menjadi pribadi ramah meski sudah terkenal.
Menurut para tetangganya di kampung halaman, Cavani kerap berkumpul dengan teman-temannya dulu dan tak jarang membantu anak-anak disana yang alami kekurangan.
Selain itu, Cavani juga masih kerap menekuni hobinya dalam memancing dan berburu bersama sang ayah.
Cavani tetaplah Cavani. Ia menganggap kehidupan kecilnya lebih berwarna dibanding sekarang. Mengutip dari The Players Tribune, Cavani berujar,
“Saat ini kehidupanku hanyalah seputar pergi ke hotel, latihan bersama teman-teman, naik pesawat untuk bertandang ke markas lawan, kemudian menaiki bus untuk sampai ke stadion tempat bertanding,”
“Meski terlihat luar biasa, aku hidup seperti seorang tahanan. Tidak bisa pergi keluar untuk menikmati sinar matahari dan tidak bisa melepas sepatu untuk merasakan debu di lapangan. Hal itu terkadang membuatku stress,”
Menutup perjalanan yang telah dilewatinya, Cavani mengatakan,
“Ketika kamu kecil, kamu berfikir bahwa orang paling sukses adalah yang bisa memiliki segalanya.”
“Tapi saat sudah beranjak dewasa, kamu akan sadar bahwa orang paling sukses adalah orang yang memiliki kebebasan dalam hidup”.







