Hingga detik ini, Indonesia masih terus berjuang untuk bisa tampil di ajang paling bergengsi, Piala Dunia. Sebetulnya, Indonesia pernah mencicipi ajang tersebut pada tahun 1938. Namun saat itu Indonesia tampil bukan dalam bentuk tim utuh.
Kala itu, bukan nama Indonesia yang muncul, melainkan Hindia-Belanda. Tapi setidaknya kita bisa sedikit bangga karena pernah ada pribumi yang bermain di Piala Dunia.
Namun tahukah kalian bahwa sejarah tak berhenti disitu saja? Ya, Indonesia sempat tampil di ajang Piala Dunia, namun kali ini bukan hanya sekadar tampil di turnamen itu saja. Tercatat, Indonesia pernah tampil di final Piala Dunia 1974.
Bagaimana kisahnya?
Final Piala Dunia 1974 mempertemukan dua tim nasional yang hebat, yaitu Jerman Barat dan Belanda. Kedua tim diisi dengan jajaran pemain top yang kelak menjadi legenda sepak bola di dunia.
Tim Oranje memiliki Johan Cruyff yang kemudian menjadi pelopor gaya sepak bola tiki taka di Barcelona. Sedangkan Die Mannschaft punya Franz Beckenbauer yang menjadi kaisar si kulit bundar di negaranya.
Di partai tersebut, Jerman Barat berhasil keluar sebagai juara di tanah sendiri.
Jika saat itu yang tampil di final adalah Belanda dan Jerman Barat, lalu bagaimana bisa Indonesia dikatakan pernah berada disebuah partai final Piala Dunia?
Jika kita menyebut yang tampil saat itu adalah sebuah tim sepakbola, maka itu adalah sebuah kekeliruan. Dan tentu, semua pasti akan sulit sekali percaya.
Bagi publik tanah air, Piala Dunia 1974 memberikan rasa bangga pada Indonesia meski tak tampil secara tim di ajang tersebut.
Indonesia, melalui koin pecahan 2000 rupiah yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, saat itu, menjadi koin yang digunakan oleh wasit asal inggris yang memimpin pertandingan final, Jack Taylor.
Bukan sembarang koin, Jack Taylor memilih koin tersebut karena memiliki gambar menarik di kedua sisinya, dan beratnya yang pas. Koin seberat 25,31 gram yang dikeluarkan pada 1974 itu memiliki dua sisi, yaitu gambar Garuda dengan teks Bank Indonesia dan Macan Jawa pada gambar sisi lain.
Istimewanya lagi, koin tersebut hanya tersedia tiga keping dan dana penjualan koin tersebut digunakan untuk penyelamatan satwa langka di Indonesia. Sebab, koin tersebut khusus yang dibuat Bank Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Konservasi Dunia (IUCN) dan Lembaga Konservasi Alam (WWF).
Bahkan, koin ini sempat membuat kapten Jerman, Franz Beckenbauer, penasaran. Pada jeda pertandingan Beckenbauer sempat menanyakan koin apa yang Taylor pakai. Diapun bertanya kenapa Taylor kenapa tak memakai koin poundsterling? Pertanyaan Der Kaizer itu hanya dibalas Taylor dengan senyuman.
Taylor sendiri sangat beruntung bisa mendapat satu koin ini secara gratis. Hal tersebut diungkapkan Guardian saat mewawancarai Jack Taylor tahun 2000-an.
Koin yang hanya dibuat tiga keping itu dipasarkan untuk para kolektor dan dilelang dengan harga yang tinggi. Pada 2006 silam, dikabarkan bahwa koin bersejarah tersebut dilelang dengan harga mencapai 150 juta rupiah. Saat itu, seorang pengusaha asal Inggris lah yang berhasil mendapatkannya.
Diketahui, Jack Taylor wasit Inggris pertama yang memimpin pertandingan final Piala Dunia. Dia meninggal dunia pada usia 82 tahun di kediamannya di Shropshire pada Jumat 27 Juli 2012.
Piala Dunia 1974 memang banyak ciptakan kenangan. Tak hanya bagi Indonesia saja, negara Australia juga sukses mencetak sejarah pada gelaran kala itu.
Piala Dunia 1974 merupakan yang pertama bagi Australia sebagai wakil Oceania. Australia saat itu berada satu grup dengan Jerman Barat, Jerman Timur dan Chili. Skuat Australia 1974 amatlah begitu melegenda, mengingat skuat itulah yang pertama kali mampu membawa the Socceroos tampil di Piala Dunia.
Piala Dunia 1974 sendiri memunculkan nama Johan Cruyff sebagai pemain terbaik. Bisa dibilang, Piala Dunia 1974 menjadi salah satu penampilan terbaik bagi legenda sepak bola Belanda yang saat itu merumput bersama Barcelona.
Dirinya dinilai menjadi salah satu kunci dari keberhasilan gaya permainan baru dalam sepak bola, yakni Total Football.







