Sepakbola tak melulu tentang pertandingan. Sepakbola juga tak melulu tentang siapa yang menang, dan siapa yang harus menanggung malu. Akan tetapi, sepak bola adalah tentang segala hal.
Mulai dari momen dramatis hingga unik, semua terbalut rapih dalam olahraga sebelas lawan sebelas ini. Bahkan, saking beragamnya kisah yang tercipta dalam dunia sepak bola, penipuan terbesar pun pernah terjadi disana.
Ya, di medio 90an, Liga Inggris pernah digegerkan dengan cerita tak masuk akal dari klub Southampton. Klub yang notabene profesional dan banyak dikenal itu pernah dibohongi oleh seseorang yang mengaku sebagai legenda besar Afrika, George Weah.
Southampton, jika boleh dibilang, telah mempermalukan dirinya sendiri. Klub yang bermarkas di St. Mary Stadium itu pernah “kecolongan” oleh sebuah panggilan palsu.
Cerita dimulai ketika manajer Southampton pada 1996, Graeme Souness, menerima telepon dari yang mengatasnamakan dirinya seorang pemain terbaik dunia, George Weah.
Souness sendiri bukanlah sosok sembarangan. Ia berhasil membentuk Matt Le Tissier menjadi striker yang haus akan gol. Dulunya, ia adalah pemain yang berpengalaman bersama Liverpool. Bermain sebanyak 247 kali, ia mencetak 38 gol.
Saat itu, telefon di kantornya berdering. Suara yang menjadi lawan bicaranya memperkenalkan diri bahwa ia adalah seorang bernama George Weah. Saat itu, nama Weah banyak dikenal halayak. Dia adalah pemain timnas Liberia, yang karirnya menanjak bersama PSG dan AC Milan.
Pelatih Southampton itu sempat tertegun sekejap, sebelum akhirnya membalas sapaan sang legenda sepak bola Afrika. Pembicaraan pun berlangsung cair dan hangat. “George Weah” dalam pembicaraan itu merekomendasikan “sepupunya” yang berasal dari Senegal. Ali Dia namanya. “Weah” menyebutnya sebagai penyerang berbakat di Afrika.
Ada banyak hal menarik yang Weah katakan pada Souness. Katanya, Dia bermain di Liga Prancis bersama PSG, dan baru saja mencetak dua gol bersama timnas Senegal beberapa waktu sebelumnya. Souness pun tertarik, meskipun sebenarnya cukup janggal karena Weah berkewarganegaraan Liberia, sedangkan keponakannya berkewarganegaraan Senegal.
Untuk meyakinkan Souness, sang penelepon mengatakan bahwa Dia tengah tampil bersama salah satu klub divisi dua Liga Jerman.
Selanjutnya, sang penelepon mengatakan bahwa Dia sekarang sedang berada dalam status bebas transfer dan bertanya apakah Souness tertarik untuk mendatangkan Dia ke Southampton. Mendengar cerita tersebut apalagi dari seorang legenda sepakbola seperti George Weah, tentu itu merupakan saran yang begitu baik.
Setelah menutup telefon, Souness merasa kegirangan. Ia langsung memberitahu manajemen untuk segera merekrut Dia. Bahkan, Souness meminta agar berita tersebut jangan sampai kepada klub-klub besar seperti Arsenal dan Manchester United.
Tak berselang lama, Southampton langsung memberi kontrak profesional kepada Dia.
Ali Dia pun menandatangani kontrak dan langsung dipersilahkan bergabung dengan latihan tim.
Anehnya, semua pemain Southampton merasa terheran dengan kemampuan Dia. Pemain yang disebut pernah membela PSG itu dianggap tidak mengerti cara menggiring bola dan terlihat lebih sering menghindarinya.
Namun begitu, baik Souness maupun para penggemar tak terlalu memperhatikan hal tersebut. Bahkan, fans merasa klub berjuluk The Saints telah mendatangkan permata asing dari Afrika untuk kesebelasannya berbicara banyak di Liga Inggris.
Ali Dia tentu memiliki nasib yang begitu baik. Namanya langsung masuk ke dalam skuat cadangan Southampton karena pada saat itu Southampton sedang mengalami badai cedera pemain.
Hingga tepat pada 23 November 1996, Ali Dia menjalani debut bersama Southampton. Dia masuk di menit ke-32 menggantikan Matt Le Tissier yang cedera.
Tanpa ragu Souness memasukkan Ali Dia yang terlihat seperti masih merasa canggung disaksikan puluhan ribu orang.
Namun disinilah kebohongan Dia terbaongkar. Seketika perasaan Souness kecewa. Penampilan Ali Dia benar-benar mengecewakan. Dia hanya berlari ke sana ke mari, tanpa tahu apa yang harus dilakukan di lapangan. Tak pelak, suporter pun mencemoohnya.
Dan benar saja, pada menit 85, Dia kembali digantikan oleh pemain lain. Total, Dia hanya bermain selama 53 menit, untuk pertama kali, di Liga Primer Inggris, dan untuk yang terakhir kalinya pula.
Le Tissier yang ikut terheran pun berkomentar,
“Aku tidak pernah menyaksikan hal semacam ini selama 16 tahun berkarier sebagai pemain Southampton. Ia seperti ayam tanpa kepala, tapi yang paling lucu adalah ia berlari ke daerah di mana tidak ada bola. Aku rasa ia mencoba menghindarinya”,
“Aku rasa ia pikir jika dia tidak menyentuh bola maka tidak akan ada seorang pun yang melihat seberapa buruk dirinya.” (dikutip dari The Guardian)
Tak menunggu lama, keesokan harinya, Souness langsung memecatnya. Ali Dia kemudian bergabung dengan klub lokal, amatir, non-liga, Gateshead. Di klub ini, dia sempat tampil delapan kali dan mencetak dua gol.
Kisah Ali Dia sempat ramai jadi pembicaraan. Dia jadi pemain yang selalu masuk dalam daftar penyerang terburuk dan rekrutan terburuk.
Setelah kepergian sang pemain, barulah Souness tahu kabar yang sebenarnya. Yang meneleponnya bukan lah George Weah yang tersohor itu. Ia hanyalah teman satu sekolah Ali Dia, yang memaksanya berpura-pura menjadi Weah.
Kini, tidak diketahui keberadaan Ali Dia. Namun, oleh suporter Southampton, namanya akan selalu dikenang, dalam konotasi buruk tentunya.
Bahkan, namanya masih sering diteriakkan suporter Southampton untuk mengingat kebohongannya.
“Ali Dia, is a liar, is a liar” alias “Ali Dia adalah pembohong, pembohong”.






