Biografi Didier Drogba

Didier Yves Drogba Tebily atau yang akrab disapa Didier Drogba lahir pada 11 maret 1978 di Abidjan, Pantai Gading. Masa kecilnya akrab dengan kondisi yang serba pas pasan. Kondisi ekonomi yang sulit di wilayahnya saat itu membuat orang-orang disana banyak meninggalkan tempat tersebut.

Saat itu, negara Prancis menjadi tujuan orang Pantai Gading untuk mencari nafkah. Di usia lima tahun, Drogba pun ikut meninggalkan Pantai Gading. Drogba dikirim ke Prancis untuk tinggal bersama pamannya, Michel Goba, seorang pesepakbola profesional yang mengukir karir di kasta kedua sepakbola Prancis. Alasan orang tuanya rela melepas Drogba pergi tidak lain adalah karena masalah ekonomi.

Drogba bertemu dengan pamannya di bandara Charles de Gaulle, Paris. Setelah beberapa bulan sang anak tinggal di Prancis, orang tua Drogba berpandangan bahwa Drogba hanya akan fokus untuk pendidikan dan tidak menjadikan sepakbola sebagai prioritas utama, berbeda dengan Goba yang menjadikan sepakbola sebagai pekerjaanya.

Tiga tahun kemudian, Drogba kembali ke negara asal karena mengalami homesick akan tetapi dua tahun berselang, dia dan keluarganya mengungsi ke Prancis karena Pantai Gading dilanda kelaparan hebat.

Disaat itulah, Goba memberi saran kepada orang tuanya untuk mengizinkan Drogba bermain bola namun juga tidak meninggalkan kewajiban akademisnya.

Drogba fokus menyelesaikan pendidikannya dan sepakbola hanya menjadi kegiatan paruh waktu. Ia pun melanjutkan pendidikannya di bangku perkuliahan hingga mendapatkan gelar sarjana di Universitas Maine dan sedikit mulai fokus bermain sepak bola di Le Mans.

Bermain di Le Mans, Drogba sempat mengalami kesulitan. Ia beberapa kali kelelahan dan tak jarang mendapat cedera. Mantan pelatih Le Mans saat itu, Marc Westerloppe, kemudian mengatakan bahwa Didier Drogba butuh setidaknya empat tahun untuk bisa berlatih setiap hari dan bermain setiap minggu.

Drogba terus berjuang dan betekad untuk bisa menembus tim utama Le Mans. Pada usia 21 tahun, Drogba menyadari bahwa ia harus segera memantapkan diri sebagai pemain, atau ia hanya akan memiliki sedikit peluang untuk menjadi pemain sepak bola profesional.

Tepat di tahun 1999, Drogba menandatangani kontrak profesional bersama Le Mans. Ia pun mulai mendapat kepercayaan dan mencetak tujuh gol dari 30 penampilan. Meski sempat alami paceklik gol di musim berikutnya, Drogba tetap berjuang. Ia pun sukses mendapatkan tempatnya kembali dan mulai dilirik oleh beberapa klub Prancis lainnya.

Setelah berkarier di Le Mans, Drogba sempat membela Guingamp selama semusim sebelum akhirnya bergabung dengan raksasa Prancis, Marseille.

Pada saat membela Guingamp, Drogba mencetak 17 gol dan berkolaborasi dengan Florent Malouda.

Di musim bersama Marseille, Drogba sempat menjadi cadangan sebelum akhirnya diberi kepercayaan oleh pelatih. Total, Drogba mencetak 19 gol dan berhasil mendapat penghargaan UNFP. Selain itu di Liga Champions ia berhasil torehkan lima gol.

Satu musim bermain untuk Marseille, Drogba menarik minat klub Liga Primer, Chelsea. Saat itu, Jose Mourinho yang menjadi pelatih sangat tertarik untuk mendatangkan pemain asal Pantai Gading itu.

Perekrutan Drogba sendiri sempat mendapat penolakan dari Roman Abramovic. Namun Mourinho bersikeras agar Chelsea mendatangkan Drogba. Tepat pada Juli 2004, Chelsea memberi kontrak Drogba dengan nilai 24 juta pounds atau setara 437 milliar rupiah.

Saat pindah ke Chelsea pada tahun 2004, Drogba menjadi pemain Pantai Gading yang memegang rekor transfer termahal. Namun pada 2015, rekor itu pecah ketika Wilfried Bony pindah ke Manchester City dari Swansea dengan harga 28 juta pounds atau setara 510 milliar rupiah.

Saat bermain untuk Chelsea, Drogba benar-benar menjadi bintang. Ia menjadi andalan klub dan bertransformasi menjadi striker paling subur tim asal London tersebut.

Di tahun 2006, Drogba melakukan hal yang sangat luar biasa bagi negaranya, Pantai Gading. Seperti diketahui, meski besar di Prancis, Drogba sangat mencintai Pantai Gading. Rasa Nasionalismenya sangat tinggi dan akar Afrika mengalir deras dalam darahnya. Semenjak di Prancis, dia kerap kali makan makanan Afrika dan mendengarkan musik Afrika.

Disaat kariernya melambung pesat, Pantai Gading saat itu berada dalam keadaan terburuk. Pantai Gading dilanda perang sipil mulai 2002 hingga 2004. Kepemimpinan mantan presiden Laurent Gbagbo dan pemberontak Forces Nouvelles de Côte d’Ivoire (New Forces) menelan banyak korban tidak berdosa.

Melihat masyarakat negaranya menjadi korban perang sipil, Drogba tidak tinggal diam. Melalui sepak bola dan ketenaran namanya sebagai pemain sepak bola, setelah membantu tim nasional Pantai Gading lolos ke Piala Dunia 2006, dia memaksa mantan Presiden Gbagbo dan pemberontak mengakhiri perang sipil. Hasilnya, pada 2007, pemerintah dan pemberontak menandatangani perjanjian perdamaian di ibu kota Burkina Faso, Ouagadougou.

Pengabdiannya untuk negara tercinta tak sampai disitu saja. Di tahun 2007, sang penyerang mendirikan Didier Drogba foundation. Organisasi ini bertujuan memberikan bantuan kepada organisasi Palang Merah di kota asalnya, Abidjan dan juga membangun sekolah, serta rumah sakit demi mengangkat taraf hidup warga setempat. Di tahun tersebut, Drogba juga sempat menjadi duta perwakilan Program Negara Berkembang miliki PBB.

Melalui yayasan yang didirikannya, Drogba mendirikan lima rumah sakit di Pantai Gading. Saat itu, Drogba menyumbang dana sekitar 48 milliar rupiah untuk membangun rumah sakit di Abidjan, Pantai Gading.

Proyek rumah sakit di kampung halaman Drogba, Pantai Gading, diperkirakan memperbaiki citra Drogba. Sebab, selama ini Drogba dikenal sebagai pemain dengan tindakan yang agresif, suka berpura-pura terjatuh dalam pertandingan, dan suka memaki. Salah satu akibat tindakan Drogba memaki-maki adalah ketika UEFA melarangnya tampil di tiga pertandingan Liga Champions.

Proyek rumah sakit tersebut juga terpicu setelah insiden tewasnya 19 penonton sepak bola serta 132 orang terluka akibat dinding di Stadion Felix Houphouet-Boigny roboh.

Bermain untuk Chelsea, Drogba menjadi pahlawan. Ia banyak menyumbangkan trofi dan dianggap sebagai pemain paling penting dalam sejarah kebesaran The Blues.

Total, delapan tahun ia membela panji kebesaran Chelsea dan sumbangkan tiga trofi Premier League, empat Piala FA, dan tentunya satu trofi Liga Champions Eropa.

Dalam kehidupan pribadinya, Drogba menikahi istrinya Lalla Diakite dalam sebuah upacara kecil di Marie De Monaco di Monaco pada 13 Juni 2011. Acara ini dibuat oleh pemilik Chelsea, Roman Abramovich dan pernikahannya didatangi oleh Salomon Kalou, Florent Malouda, Michael Essien. Selain itu sejumlah pebasket NBA dan penyanyi Akon juga terlihat hadir di upacara bahagia tersebut.

Di tahun 2012, Drogba bergabung dengan klub China, Shanghai Shenhua sebelum akhirnya membela Galatasaray dan sumbangkan piala liga dan piala super Turki.

Semusim berkarier di Turki, Drogba kembali ke Chelsea dan menambah koleksi gelar Premier League nya.

Pada 24 Mei 2015, Drogba mengumumkan pertandingan terakhirnya bersama Chelsea, dan di tahun yang sama ia menandatangani kontrak bersama Montreal Impact.

Dua kali memperkuat Chelsea, Drogba mencetak 164 gol di 381 pertandingannya.

Hingga pada akhirnya, Drogba putuskan pensiun di usia 40 tahun dan menjadikan Phoenix Rising sebagai tim terakhir yang dibelanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *