“Orang tidak mati karena kebakaran di lapangan sepakbola. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya” (dikutip dari bbc)
Ungkapan itu keluar dari mulut seorang bernama David Pendleton yang menjadi saksi mata atas tragedi berdarah di kota Bradford, sekitar 34 tahun lalu.
Bradford City seharusnya merayakan kemenangan mereka pada 11 Mei 1985. Tim tersebut berhak atas juara divisi tiga dan dinyatakan lolos ke divisi dua kompetisi sepakbola Inggris.
Perlu diketahui, trofi tersebut merupakan trofi pertama mereka sejak 56 tahun. Mereka begitu bahagia di hadapan 11 ribu pendukung saat itu.
Akan tetapi, pertandingan melawan Lincoln City saat itu berubah menjadi tragedi yang mengerikan. Stand utama di Valley Parade terbakar dan membuat sebagian stadion hangus dilalap api.
Insiden itu, menjadi salah satu tragedi berdarah terbesar dalam dunia sepakbola, khususnya Inggris, ketika klub sepakbola Bradford City tengah bertanding melawan Lincoln City. Menjelang akhir babak pertama, stadion tempat pertandingan itu tiba-tiba membara. Kebakaran terjadi di salah satu ujung tribun utama.
Para suporter berlarian ke lapangan menghindari kobaran api. Rencana Bradford City yang akan merayakan gelar juara Liga Divisi III pun batal. Dalam hitungan menit, kobaran api merembet dan dengan cepat membakar hingga atap tribun yang terbuat dari kayu. Sekitar 4 menit, seluruh atap stadion pun hangus terbakar dan menjebak orang-orang yang ada di bawahnya.
Kebakaran terjadi saat pertandingan memasuki menit 40, sepercik api mulai terlihat di sudut tribun pojok kanan tepatnya tiga baris pada blok G. Api diyakini muncul akibat seorang fans yang membuang puntung sembarangan, puntung itu kemudian masuk menyelip ke bawah tribun yang dimana banyak sampah-sampah kertas menggunung.
Sebelumnya, para penonton sempat merasakan kaki mereka terasa lebih hangat. Setelah ada salah seorang yang menyadari adanya kebakaran, ia langsung mencari alat pemadam kebakaran. Nahas, benda yang dicarinya itu tidak ditemukan.
Lalu, upaya seorang polisi yang coba memberitahu rekannya untuk memanggil pemadam kebakaran pun tak berujung baik. Adanya miskomunikasi membuat hal yang diucapkan tak tersampaikan.
Api yang timbul dari puntung dengan cepat melahap stadion. Pasalnya, kondisi stadion yang cukup tua dan bobrok serta banyak terbuat dari material kayu, membuat kobaran si jago merah dengan cepat melahap setiap bagian yang dilewatinya.
Setelah sejumlah petugas keamanan dikerahkan, mereka alami kesulitan akibat asap yang terlalu tebal dan banyak penonton yang banyak dibuat piungsan hingga membuat proses evakuasi terhambat.
Mirisnya, disaat api sedang berkobar, ada sebagian pendukung yang tidak menyadari itu. Mereka malah asyik bernyanyi dan berdansa untuk merayakan kelolosan tim yang dicintainya. Tindakan yang mereka lakukan bak ritual khusus yang menggunakan api sebagai pelengkapnya.
Padahal, mereka tidak menyadari bahwa ada banyak teman mereka yang sedang terpanggang dalam kobaran api itu.
Peristiwa tersebut menyebabkan 56 orang tewas terpanggang, sedangkan lebih dari 250 lainnya dilaporkan cedera.
Penggemar Bradford, Matthew Wildman, yang saat tragedi itu terjadi masih berusia 17 tahun, menceritakan betapa mengerikannya suasana saat itu. Ia merasa takut dan menjadi saksi dari terbakarnya para penggemar Bradford didalam stadion.
“Ketika kejadian itu dimulai, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan,”
“Aku melihat sekelilingku adalah kobaran api. Aku bahkan melihat tanganku sendiri meleleh,”
“Aku lalu memberanikan diri untuk melompat ke dinding. Untungnya ada orang dibawah yang dengan sigap menangkapku.” (dikutip dari bbc)
Tragedi yang lantas akan selalu dikenang ini akhirnya membuat adanya regulasi dalam sepakbola Inggris dengan dilarangnya memakai kayu sebagai pembentuk tribun.







