Halo football lovers, jumpa lagi dengan kami yang akan terus memberikan informasi dan kisah menarik seputar dunia sepakbola.
Buat kamu yang gak mau ketinggalan info dan kisah menarik dalam dunia sepakbola, jangan lupa untuk klik tombol subscribenya ya..
Sepakbola selalu menyajikan hal menarik. Selain dari pertandingan itu sendiri, sisi lain seperti kesetiaan para supporter, keglamoran sebuah klub, hingga kehidupan pribadi para pemain juga layak menjadi perbincangan. Seperti pada cerita yang bakal diangkat kali ini, kami akan menyuguhkan perjalanan luar biasa pemain bernama Francesco Acerbi.
Tak hanya diatas lapagan, tapi juga dalam kehidupan yang sebenarnya.
Kisah Acerbi memiliki sejumlah bagian menarik untuk dibahas, namun yang utama adalah saat dirinya bisa mengalahkan penyakit kanker, bukan hanya sekali, tapi dua kali! Sejak pertempuran luar biasa itu, Acerbi berubah menjadi sosok yang menakjubkan.
Cerita menarik Acerbi dimulai dari Vizzolo Predabissi, sebuah kota kecil yang terletak 12 mil dari Milan. Jika disimpulkan, karier Acerbi tergolong lambat. Memulai karier sepakbola dari kelas rendah termasuk bergabung dengan AC Pavia pada 2006, Acerbi lalu digaet oleh klub Reggina, yang kala itu berlaga di kompetisi Serie B.
Acerbi yang saat itu masih berusia 22 tahun menjadi salah satu pilar penting bagi klub yang lahir pada tahun 1914. Karena punya andil besar bagi klub, Reggina tak ragu untuk memberinya kontrak jangka panjang. Namun meski Reggina berniat untuk mempertahankannya, Genoa datang dengan dana senilai 1 juta euro atau setara 15 milliar rupiah. Setelah melalui sejumlah negosiasi, Acerbi pun resmi menjadi milik Genoa.
Namun saat tiba di Genoa, Acerbi malah gagal temukan permainan apiknya. Oleh karena itu, ia dijual ke Chievo Verona yang saat itu rela merogoh kocek hingga 2,2 juta euro atau lebih dari 31 milliar rupiah. Membela panji Chievo selama kurang lebih satu musim, Acerbi memainkan sebayak 17 pertandingan Serie A sebelum akhirnya diminati oleh raksasa AC Milan.
Akan tetapi, bermain di klub sebesar Milan tak memberi jaminan bagi Acerbi untuk berkembang. Disana, ia malah menjadi pribadi yang tak terkontrol dan susah diatur. Wajar saja, saat Acerbi datang, Milan sedang mengalami perombakan skuat besar-besaran. Banyak para pemain hebat yang hengkang pasca klub yang bermarkas di San Siro memenangkan gelar scudetto terakhirnya.
Hanya bermain sebanya enam kali, Acerbi pun kemudian dilepas Milan ke Genoa dengan mahar sebesar 4 juta euro atau setara 62 milliar rupiah. Selama sisa musim 2012/13, Acerbi dipinjamkan Genoa ke mantan klubnya, yakni Chievo.
Hingga tepat pada jendela transfer musim panas 2013, klub promosi, Sassuolo, mengeluarkan dana hampir 2 juta euro atau setara 30 milliar rupiah untuk memboyongnya.
Berada di Sassuolo, Acerbi sukses temukan titik balik. Namun sebelum bisa mainkan lebih dari 100 pertandingan untuk I Neroverdi, kejadian buruk menimpanya. Saat menjalani tes medis pra musim bersama Sassuolo, tim dokter telah temukan benjolan di area testis Acerbi. Setelah diteliti lebih lanjut, benjolan tersebut merupakan tumor yang bersarang dibagian tubuh sang pemain.
Setelah mengetahui hal mengejutkan itu, dokter langsung membawa Acerbi ke rumah sakit di kawasan Kota Milan guna mendapat pertolongan memadai. Setelah menjalani serangkaian operasi, tumor itupun berhasil diangkat. Karena dinyatakan sembuh, Acerbi akhirnya diperbolehkan bermain hingga mencatatkan sebanyak 13 pertandingan di kompetisi Serie A. musim 2013/14.
Akan tetapi, pada Desember 2013, Acerbi dinyatakan gagal lolos dari tes obat-obatan pasca operasi. Federasi sepakbola Italia (FIGC) menyatakan kalau Acerbi telah menggunakan sebuah obat yang bisa menaikkan kinerjanya di lapangan dan terhindar dari segala resiko akibat penyakit yang telah dialaminya.
Karena terbukti telah terpengaruh obat-obatan itulah, status Acerbi akhirnya ditangguhkan.
Selang beberapa saat kemudian, mimpi buruk yang pernah dialaminya kembali datang. Di akhir tahun 2013, Acerbi kembali terjangkit tumor ganas. Bagi sebagian orang, ini mungkin akan menjadi sebuah akhir dari perjalanan. Namun bagi Acerbi, ia tak mau menyerah begitu saja. Ia bertekad untuk sembuh dan bisa merumput kembali.
Enam bulan sejak diagnosa dokter mengenai tumor yang kembali menjangkitnya, hidup Acerbi penuh dengan ketidakpastian. Ia terus menjalani kemoterapi secara rutin, melewatkan latihan tim, dan terus berdoa agar segera sembuh. Saat itu benar-benar menjadi momen paling mengerikan dalam hidupnya.
Saat sedang jalani perngobatannya, Ia menyebut kalau ia selalu dihantui rasa cemas. Acerbi merasa sangat takut jika ketika bangun di pagi hari, ia mendapati rambutnya habis karena rontok. Selain itu, ia juga menyebut kalau penyakitnya telah memaksanya untuk meminum seribu obat berbeda.
Hingga tepat pada Maret 2014, Acerbi mengumumkan bahwa ia bakal segera kembali ke pertandingan. Ia berhasil bangkit dan kalahkan penyakitnya. Bahkan hingga dua kali.
Selain dengan pengobatan dan keteguhan hati yang luar biasa, Acerbi menyebut kalau sepakbola adalah obat penawar yang amat efektif bagi penyakit mematikan tersebut.
“Kanker adalah penyakit yang bisa menjerat mu ketika kondisi fisik dan mental sedang sangat baik. Dibutuhkan kekuatan postif yang berasal dari diri sendiri, keluarga, dan teman-teman untuk menjalani kemoterapi,”
“Aku selalu mencoba untuk tak kehilangan senyum. Cintaku terhadap sepakbola dan keinginan besar untuk kembali bermain sangat memotivasi untuk mengalahkan penyakit ini. Tentu saja segalanya disertai iman kepada Tuhan,”
“Kini aku merasa amat beruntung ketika melihat mereka para penderita yang lebih parah. Teman-temanku yang berjuang di rumah sakit atau tempat tidur melawan penyakit mengerikan ini,” pungkasnya.
Pasca jalani pemulihan selama dua bulan penuh di rumah sakit, Acerbi tak sabar untuk segera kembali membela Sassuolo. Acerbi mempersiapkan segala hal untuk menyambut musim 2014/15.
Di awal musim, Sassuolo berniat untuk mempertahankan Acerbi. Meski tak memainkan pertandingan penuh, Acerbi tampil dalam laga besar melawan Juventus dan Lazio. Hingga tepat pada pertandingan melawan Parma, Acerbi menjadi pemain yang sangat berjasa bagi Sassuolo. Pasalnya, pertandingan tersebut sangat menentukan apakah Sassuolo harus terdegradasi ke Serie B atau tidak.
Setelah pertandingan berlangsung selama 90 menit, Sussuolo berhasil mengakhiri pertandingan dengan skor 3-1. Hal termanis disini adalah saat Acerbi mampu lesatkan satu gol diantaranya. Setelah mencetak gol, ia dikelilingi oleh semua rekan setimnya hingga membuat para supporter yang hadir menitikan air mata.
Momen tersebut sangatlah emosional. Acerbi benar-benar kembali dalam pertempurannya melawan kanker. Selain itu, ia juga kembali menjadi seorang juara setelah mampu cetak gol krusial bagi Sassuolo.
Pasca momen tersebut, Acerbi masih terus setia membela Sassuolo hingga empat musim kedepan. Lalu, tepat pada tahun 2018, ia ditarik oleh Lazio untuk gantikan peran De Vrij yang hijrah ke Inter Milan.
Tampil bersama Tim Elang, Acerbi berhasil emban tanggung jawab dengan sangat baik. Meski hanya bawa Lazio bercokol di posisi kedelapan klasemen akhir, dia sukses menjadi bagian dari skuat Biancocelesti yang juarai turnamen Copa Italia musim 2018/19.
Kisah Acerbi mengajarkan bahwa hidup adalah tentang perjuangan. Tekad kuat dan semangat berkobar tak akan menghianati hasil. Seberat apapun rintangan, jalan keluar pasti ada. Yang terpenting, tetap fokus dan konsisten pada tujuan kita.







