Jenius, Kontroversi, Blak-Blakan, Tegas, dan Konyol, Lima kata tersebut sangat tepat untuk mencerminkan sosok pelatih asal Portugal yang pernah menangani Chelsea, Jose Mourinho.
Selama karir kepelatihannya The Special One memang sosok yang jenius, blak-blakan, kontroversi, tegas bahkan cenderung konyol. Ya. Mourinho terbilang pelatih yang konyol. Demi bisa mendampingi anak buahnya, ia sampai nekat berada di dalam sebuah keranjang pakaian kotor. Sebuah tindakan yang agak gila.
Kejadian itu terjadi sekitar 14 tahun lalu, ketika Chelsea bertemu Bayern Munchen di perempat final Liga Champions musim 2004/05. Musim itu menjadi musim pertama Mourinho menangani Chelsea setelah datang dari FC Porto yang ia bawa jadi juara Liga Champions 2004.
Mourinho terkena sanksi mendapat larangan menemani anak asuhnya dalam beberapa pertandingan. Sanksi itu diberikan setelah Mourinho dianggap menuduh adanya konspirasi antara pelatih Barca, Frank Rikjaard dengan wasit asal Swedia, Anders Frisk dalam pertandingan Barcelona melawan Chelsea di leg pertama babak 16 besar di stadion Camp Nou.
Dalam pertandingan itu Didier Drogba dikartu merah wasit dan Chelsea kalah 1-2. Atas sikapnya yang kontroversi tersebut, UEFA pun lantas menjatuhkan hukuman terhadap Mourinho dalam dua pertandingan berikutnya.
Dan secara otomatis, Mourinho tidak akan bisa mendampingi Chelsea saat bertemu Bayern Munchen di babak perempat final. Chelsea melaju ke perempat final setelah mengalahkan El Barca di Stamford Bridge dengan skor 4-2.
Meskipun di larang menemani anak asuhnya, dan tidak diperkenankan melakukan kontak dengan asisten pelatihnya, lelaki Portugal yang kini berusia 55 tahun itu tak kehabisan cara.
Nalurinya sebagai pelatih tetap mendesaknya untuk tetap bertemu dengan para pemainnya. Modal nekat, ia pun menyelinap ke ruang ganti pada siang hari.
“Saya pergi ke ruang ganti pada siang hari jadi saya berada di sana sejak tengah hari dan pertandingannya sekitar pukul tujuh malam. Saya hanya ingin berada di ruang ganti ketika para pemain datang,” kata Mourinho (Dikutip dari Skysport).
“Saya pergi kesana dan tidak ada yang melihat saya. Masalahnya adalah bagaimana saya keluar. Stewart Banister, yang mengurusi seragam pemain, kemudian memasukkan saya ke keranjangnya. Ada sedikit lubang supaya saya bisa bernapas,” ujar Mourinho lagi. (Dikutip dari News18)
Berada di dalam ruang sempit tentu membuat Mourinho merasa tersiksa. Selain harus bernapas dengan ventilasi yang kecil, ia masih harus bermain-main dengan para petugas UEFA yang berseliweran di area lorong stadion.
“Ketika kami keluar dari ruang ganti, orang-orang UEFA mengikuti. Mereka berusaha memastikan keberadaan saya. Dia (Bannister) menutup keranjangnya dan saya tidak dapat bernapas,” kenangnya. (Dikutip dari Skysport)
“Ketika dia membukanya, saya seperti sekarat. Saya punya klaustrofobia. Saya serius. Ini benar.”
Meski demikian, cara yang dilakukan Mourinho tersebut berhasil. Mou bisa memberikan arahan kepada pemainnya tanpa ketahuan petugas UEFA. Di kabarkan bahwa asisten pelatih Chelsea Rui Faria menggunakan lubang suara yang disembunyikan di bawah topi wol untuk berkomunikasi dengan Mourinho.
Sementara itu, pelatih kiper Chelsea, Silvinho Louro terlihat melakukan perjalanan reguler ke ruang ganti dengan membawa potongan kertas. Sekembalinya ke bench pemain terjadi bersamaan dengan pergantian pemain saat timnya menang 4-2.
Kemenangan 4-2 atas Bayern Munchen di leg pertama tersebut membawa angin segar bagi The Blues, di Leg kedua yang berlangsung di Alianz Arena mereka kalah 2-3, meski begitu Chelsea berhasil lolos ke semifinal.
Usut punya usut, ternyata ini bukan kali pertama Mourinho nekat masuk keranjang pakaian. Ketika masih menukangi FC Porto, Mou melakukan hal sama. Namun apapun yang ia lakukan, Mou tetaplah pelatih yang cerdas, yang mampu menggunakan segala cara agar timnya meraih kemenangan.







