Nama James Rodriguez sudah tidak asing lagi di telinga para penggemar sepakbola. Bocah ajaib asal Kolombia ini sempat gegerkan dunia dengan gol spektakuler di Piala Dunia 2014. Dengan gol tersebut, nama James Rodriguez semakin melambung dan menjadi buruan klub top Eropa.
Hingga pada akhirnya, pria yang kini berusia 28 tahun resmi berseragam Real Madrid. Meski sempat alami masa-masa sulit dan dipinjamkan ke klub lain, James pulang ke Spanyol dan siap bangun kembali reputasinya sebagai salah satu gelandang terbaik dunia.
Sebelum namanya melambung tinggi, ada kisah menarik dari perjalanan karier James Rodriguez. Dirinya yang sudah menjadi bintang, bakatnya ditemukan oleh seorang mafia narkoba paling berbahaya di Kolombia.
Kolombia memang sudah biasa dengan cerita-cerita kartel narkoba kelas kakap, dan Pablo Escobar adalah salah satunya.
Pablo Escobar dari Medellin pernah menjadi penjahat yang paling diburu Amerika Serikat. Dia pernah dijuluki sebagai rajanya kokain. Sepeninggal Escobar, seorang yang diklaim sebagai tangan kanannya, masih berkuasa di Envigado, distrik yang berbatasan dengan Medellin. Dia adalah Gustavo Upegui, yang menjabat sebagai kepala kantor distrik Envigado.
Berdasarkan laporan media Kolombia Las 2 Orillas, Upegui memiliki sebuah klub sepak bola lokal, Envigado FC. Di klub itulah karier James Rodriguez pertama kali bersemi. Bahkan, diklaim Upegui merupakan sosok yang menemukan bakat Rodriguez.
Sebelum Rodriguez bergabung, Upegui terlebih dahulu membeli klub kecil yang berkompetisi di kasta kedua Liga Kolombia itu. Dia melakukan terobosan dengan terfokus pada pembinaan usia dini. Dari sekian banyak pemain muda binannya, kini beberapa menjadi bintang.
Bakat Rodriguez tercium oleh Upegui sejak masih berusia 11 tahun. Kala itu, pemain Internasional Kolombia tersebut tampil dalam turnamen Pony Championships pada 2003. Dia pun tersentak dan langsung mendekati ibu Rodriguez, Maria del Pilar Rubio, dan ayah tirinya Juan Carlos.
Upegui akhirnya bersepakat dengan orang tua Rodriguez agar sang anak berlatih di Independiente Medellin. Nantinya, dia akan dijadikan pemain professional di Envigado.
Saat Rodriguez berusia 14 tahun dan dinilai siap melakukan debut profesional, Upegui memaksa pelatih klubnya, Hugh Gallego untuk memberikan posisi inti. Bahkan, nomor punggung 10 pun diberikan. Karirnya pun berjalan sukses di usia muda.
Namun disaat karier Rodriguez mulai berkembang, Upegui justru berada dalam pantauan polisi hingga nyawanya melayang karena tertembak. Ia meninggal pada Februari 2006, dan Rodriguez langsung berada dalam pengawasan penuh sang ibu.
Karena dorongan sang ibu, Rodriguez lalu memutuskan berkarier di Argentina dengan bergabung bersama klub Banfield. Disinilah, Rodriguez menemukan sosok yang dianggap paling berjasa dalam kariernya.
Saat membela Banfiled, Rodriguez bertemu dengan seorang pelatih bernama Julio Cesar Falcioni. Ia menganggap jika Falcioni lah yang telah membentuknya menjadi seorang pemain hebat.
“Falcioni seperti ayah bagiku. Dia merasakan dan mengetahui talenta yang aku miliki. Dia bertanggung jawab penuh atas bakatku,”
“Saat itu, aku bersama Falcioni berhasil memenangkan gelar liga. Gelar itu sangat berharga karena klub sudah tidak memenangkannya sejak 113 tahun. Itu adalah momen yang sangat bersejarah.” tutur James Rodriguez (dikutip dari Marca)
Setelah meraih gelar bersama Falcioni, James Rodriguez lalu putuskan hengkang ke FC Porto. Tiga tahun membela klub asal Portugal, Rodriguez kemudian memilih untuk berkarier di Prancis bersama AS Monaco.
Hingga pada akhirnya, James Rodriguez menjadi bintang di Piala Dunia dan bergabung dengan raksasa Spanyol, Real Madrid.
El Real mesti menebusnya senilai 63 juta pounds atau setara 1,1 triliun rupiah dari AS Monaco. Kepindahannya ini menjadikannya sebagai pemain keempat termahal dalam sejarah, atau yang ketiga termahal dalam sejarah Real Madrid saat itu. Ia pun menjadi pemain Kolombia termahal setelah melampaui Radamel Falcao yang dihargai senilai 60 juta euro atau setara 1,08 triliun rupiah pada 2013.
Dalam acara perkenalannya, sebanyak 45 ribu orang hadir di stadion. Kehadirannya bahkan membuat Duta Besar Kolombia untuk Spanyol, turut hadir. Ia membawa pesan dari Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos, yang menyebut kalau James telah mengubah sejarah sepakbola Kolombia dan semua orang di sana kini mendukungnya.






