Mencari celah di lini pertahanan lawan dan menutup dengan finishing sempurna merupakan pekerjaan seorang striker sejati. Segala pergerakan melalui celah kecil menjadi sebuah tantangan tersendiri dalam mencetak gol. Bagi seluruh penyerang terbaik dunia, gol adalah sebuah obsesi.
Patrick Cutrone, merupakan penyerang muda yang sudah mahir dalam melakukan hal tersebut. Memulai karier dari tim primavera Milan, remaja Italia itu sudah mencerminkan sosok predator ulung. Jika diperhatikan, mayoritas gol yang dicetak Cutrone merupakan buah dari keberuntungan. Tapi, itu semua salah besar. Rentatan gol yang pernah dialirkannya merupakan buah dari kecerdasan dan insting tajam yang ada pada dirinya.
Mulai bermain sepakbola sejak usianya lima tahun, Cutrone menarik minat AC Milan tiga tahun kemudian. Dirinya masuk ke akademi dan langsung menjadi buah bibir karena ketajamannya. Selama membela tim muda sebelum masuk ke tim utama, Cutrone mampu lesatkan 43 gol dari 67 penampilan. Selain itu, ia juga membawa Milan dalam memenangkan Piala Viareggio pada tahun 2014.
Saat namanya mulai muncul ke permukaan, Cutrone dikenal sebagai penyerang yang mewarisi insting Filippo Inzaghi, pahlawan AC Milan pada final Liga Champions 2007 melawan Liverpool. Tak banyak drible dan hanya bermodal penempatan sempurna, gol pun hanya tinggal menunggu waktu.
Anggapan itu juga diakui oleh mantan pelatihnya di AC Milan dulu, Gennaro Gattuso. Mantan gelandang super garang itu menyebut kalau Cutrone telah mengingatkannya pada sosok Inzaghi. Menurut Gattuso, bola akan menghampiri Cutrone untuk kemudian dilesatkannya kedalam gawang.
Melihat segala anggapan termasuk dari Gannaro Gattuso, Patrick Cutrone memang benar-benar menjadi pewaris insting luar biasa Inzaghi. Tercatat, dirinya pernah menjadi anak asuh Super Pippo di tim muda Milan pada periode 2012 hingga 2014.
Saat ditanya tentang anggapan orang yang menyebut kalau dirinya sama seperti Inzaghi, Cutrone belum mau memberikan banyak jawaban. Baginya, itu merupakan hal luar biasa, namun masih terlalu dini untuk membandingkannya dengan sang legenda. Bahkan, panutannya dalam menjadi seorang penyerang malah tertuju pada striker asal Spanyol, Alvaro Morata, dan penyerang milik Torino, Andrea Belotti.
Karena menjadi striker yang paling menonjol di tim muda, Cutrone akhirnya mendapat kesempatan untuk tampil bersama tim senior. Tepat pada Januari 2017 lalu, Cutrone yang saat itu masih berusia 20 tahun memulai debut bersama Milan pada pertandingan melawan Bologna. Dalam debutnya itu, kubu I Rossoneri sukses tumbangkan klub yang bermarkas di Stadion Renato Dall’Ara dengan skor 3-0.
Namun meski telah buktikan kualitas sebagai penyerang sejati, Cutrone temui kesulitan saat masuk ke tim utama. Hal tersebut tidak luput dari kedatangan dua penyerang Nikola Kalinic dan Andre Silva. Saat itu, baik Kalinic maupun Silva menjadi pemain yang memberi banyak harapan bagi Milan. Kalinic yang didatangkan dari Fiorentina merupakan bomber berpengalaman di kompetisi Serie A. Apalagi, dirinya bakal berada dibawah asuhan Viscenzo Montella, yang notabene mantan pelatihnya di tim La Viola. Sementara Andre Silva, penyerang asal Portugal itu dinilai punya potensi tinggi. Bahkan, Silva sempat diklaim sebagai penerus Cristiano Ronaldo.
Meski Milan kedatangan dua penyerang potensial, hal itu sama sekali tidak menyurutkan semangat Cutrone untuk mendapat tempat di tim utama. Seperti biasa, ia selalu mencoba untuk melewati celah yang terus menghalangi kemilau kariernya.
Benar saja, Cutrone berhasil catatkan sebanyak 11 gol dari 25 penampilannya bersama I Rossoneri, hingga paruh musim 2017/18. Bahkan hingga akhir musim, Cutrone menjadi satu-satunya penyerang Milan yang mencetak setidaknya 10 gol dalam satu musim di liga.
Meski menjadikan Alvaro Morata dan Andrea Belotti sebagai panutan, Cutrone memiliki gaya permainannya sendiri. Secara tampilan, ia merupakan tipe penyerang yang selalu ingin memanfaatkan peluang sekecil apapun. Ia berlari dan melewati hadangan lawan tanpa peduli apa yang akan dilakukan oleh lawan duelnya.
Cutrone adalah penyerang sejati. Ia memiliki naluri untuk mencetak gol. Selain itu, ia juga memiliki semangat tinggi dalam setiap laga yang dijalani.
Ketika ditanya apa momen terbaik selama membela Milan, Cutrone menjawab kalau pertandingan melawan Inter Milan diajang Copa Italia merupakan yang paling luar biasa. Gol semata wayang Cutrone memberi kemenangan AC Milan atas rival abadinya. Perlu waktu 105 menit pada pertandingan itu sehingga Cutrone bisa mencetak gol. Saat itu, dirinya baru dimasukan Milan pada menit 75 untuk menggantikan Nikola Kalinic yang mendapatkan cedera.
Cutrone menganggap bahwa golnya itu seperti mimpi karena sebelumnya ia hanyalah penyerang di skuat muda Milan Primavera. Maka dari itu perayaan golnya begitu hebat dan hampir menangis ketika diwawancara setelah pertandingan. Baginya, kemenangan atas Inter di Coppa Italia adalah kebutuhan secara moral. Alasannya karena laga bertajuk Derbi della Madonnina itu tidak pernah bisa digambarkan seperti pertandingan biasa.
Saat diwawancara, Cutrone mangaku bahwa ia ingin selalu membela Milan. Dia dilahirkan disana dan ingin pula mengukir cerita disana.
Tapi, mimpinya itu seketika lenyap.
Cutrone harus hengkang dari Milan karena tidak masuk kedalam rencana pelatih baru Marco Giampaolo. Dia tak lagi berseragam merah hitam dan entah sampai kapan harus mengubur mimpinya untuk bisa menjadi seperti Inzaghi yang membawa Milan menjadi jawara Eropa.
Patrick Cutrone menjalani pemeriksaan medis dengan klub Liga Primer Inggris, Wolverhampton Wanderers, dengan kesepakatan bernilai total 22 juta euro atau setara 344 milliar rupiah. Penyerang berinsting tajam itu akan bermukim di tanah Britania dengan kontrak berdurasi empat tahun.
Saat ditanya apakah dirinya sedih saat tinggalkan Milan, Cutrone langsung meng-iya-kan. Baginya Milan adalah segalanya. Bahkan ketika ditanya apa obsesi dalam hidupnya, Cutrone pernah menjawab dengan kalimat “sepak bola dan AC Milan”.
Namun, Cutrone percaya kalau ini adalah hidup. Semua harus terus berjalan dan tidak ada yang pernah tau kalau suatu saat nanti mungkin dirinya bisa menjadi penerus Inzaghi yang membawa Milan kembali merajai Eropa.







