Untuk semua keberhasilan Alisson Becker, cerita bermula saat Prancis menggelar ajang empat tahunan pada 1998 silam.
Saat itu, Alisson yang masih berusia 5 tahun bersama sang kakak, Muriel, menonton pertandingan Piala Dunia yang mempertemukan antara Tim Nasional Brasil melawan Belanda.
Saat itu, Alisson menyebut suasana nonton bareng bak sebuah pesta besar. Dia bercerita bahwa disitu banyak makanan dan minuman. Selain itu, terdapat pula kue buatan bibinya, lengkap dengan berbagai buah-buahan.
Karena pertandingan tersebut berlanjut hingga babak adu pinalti, suasana saat itu berubah menjadi sunyi dan menegangkan. Alisson mengatakan kalau saat itu ayahnya bertingkah seperti orang gila, ketika kiper Brasil, Taffarel, berhasil menepis tendangan lawan.
Bahkan, kue yang ada didepan hancur setelah sang ayah tak mampu menahan kegembiraan saat tahu Brasil lolos ke babak final.
Sebagai anak yang masih berusia 5 tahun, Alisson menganggap itu sebagai momen lucu dan sangat berkesan. Meski dia belum paham betul apa arti dari pertandingan itu, ia bisa merasakan kebahagiaan yang disalurkan para anggota keluarganya.
Seakan tidak percaya dengan situasi saat ini, Alisson menjadi penjaga gawang Brasil yang berlaga di Piala Dunia, setelah dua puluh tahun berlalu!
Ya, Alisson menjadi penjaga gawang Brasil di ajang Piala Dunia 2018 Russia.
Meski tak menyangka momen itu akan terjadi padanya, Alisson tidak bisa menyangkal kalau perjuangannya untuk sampai ke pentas Piala Dunia tidaklah mudah.
Alisson kecil diceritakan sebagai bocah pemarah dan cengeng. Di usia 7 tahun, Alisson mulai berlatih menjadi seorang kiper. Alisson menyadari kalau dia bukanlah sosok kiper sejati.
Saat itu, ia harus bersaing dengan kakaknya yang juga menjadi seorang penjaga gawang. Kakaknya menjadi sosok yang paham betul bagaimana membuat Alisson kehilangan kendali. Namun disaat yang bersamaan, kakaknya juga menjadi sosok yang mengajarkan Alisson bagaimana cara mengatur emosi.
Baginya, sang kakak merupakan sosok luar biasa dan paling berjasa dalam hidupnya. Bahkan, Alisson menyebut kalau prestasinya saat ini tak luput dari peran sang kakak.
Perlu diketahui juga, keluarga Alisson banyak yang menekuni karier sebagai seorang kiper. Mulai dari kakeknya, ayahnya, sampai kakaknya itu sendiri.
Saat masih kecil, Alisson sering diajak sang kakak untuk menonton ayahnya bertanding. Dia bercerita kalau sang ayah merupakan sosok kiper yang sangat luar biasa. Alisson masih ingat ketika sang ayah menjatuhkan diri untuk menepis sebuah bola.
Selain itu, kiper yang kini membela Liverpool itu juga masih hafal betul bagaimana saat sang ayah dengan gagah berani merebut bola dari penyerang yang mencoba untuk menjebol gawangnya.
Karena kerap menonton aksi heroik sang ayah diatas lapangan, Alisson saat itu langsung berkata, “Aku ingin menjadi sepertinya.”
Meski terinspirasi oleh sang ayah, Alisson menyebut kalau kakaknya lah yang justru menjadi motivasi sebenarnya.
Setelah menonton pertandingan Piala Dunia 1998, Alisson yang diajak sang kakak terus mengikuti gelaran akbar tersebut. Tepat di Piala Dunia 2002, hasrat Alisson untuk menjadi seorang penjaga gawang benar-benar tumbuh.
Selain karena melihat Tim Nasional Brasil sukses menjuarai Piala Dunia, ia juga kerap diajak berlatih oleh sang kakak di pinggir rumahnya. Ketika itu, Alisson bercerita kalau bola yang digunakannya terbuat dari plastik.
Sang kakak terus mengajarkan bagaimana cara menangkap bola yang benar hingga tak segan untuk melatih ketangkasan Alisson dimanapun mereka berada.
Setelah memantapkan niatnya untuk menjadi seorang kiper, Alisson masuk ke akademi muda Internacional, di Porto Alegre.
Akan tetapi, Alisson menemui sebuah masalah yang dianggapnya besar. Yaitu, tubuhnya saat itu tergolong pendek.
Alisson mengaku kalau dulu dia punya postur tubuh yang pendek. Banyak kiper yang punya badan lebih besar dan kuat. Alisson pun langsung merasa down dan beranggapan kalau seorang kiper harus memiliki tubuh yang tinggi, bisa melompat untuk menangkap bola, dan tentunya mampu menguasai area gawang.
Setelah mengalami hal yang membuatnya takut, Alisson merasa minder dan ragu kalau-kalau mimpinya untuk menjadi seorang kiper lenyap begitu saja.
Kegelisahan dan keraguan Alisson semakin bertambah saat dia tergabung dalam tim yang mengikuti sebuah kompetisi bernama Nike Cup, yang mana turnamen itu diperuntukan bagi para pemain yang usianya masih menginjak 14 sampai 15 tahun.
Saat itu, kakaknya menjadi penjaga gawang utama dan berhasil menjuarai turnamen tersebut. Dia membawa pialanya kerumah dan membuat Alisson berkata,
“Aku juga menginginkan itu”
Alisson yang saat itu masih bertubuh pendek dan belum juga mendapat kesempatan mulai berfikir, apakah dia bisa mendapat kesempatan seperti Iker Casillas maupun Gianluigi Buffon yang sudah menjadi seorang professional di usia 17 tahun.
Dengan perasaan harap-harap cemas, Alisson bergumam,
“Berapa lama lagi aku harus menunggu?!”
“Akankah kesempatan itu datang kepadaku? Aku tidak yakin akan hal itu.”
Sampai pada akhirnya sosok sang kakak lah yang menjadi penolong. Kakaknya berkata kalau Alisson harus terus berlatih. Dia terus menekan adik kecilnya itu untuk tidak berhenti mencari tahu tentang segala hal yang berkaitan dengan seorang penjaga gawang.
Karena terus mendapat “paksaan” dari sang kakak, Alisson berkata bahwa semua yang ia dapat saat ini adalah berkat kakaknya itu. Pernah suatu hari saat Alisson merasa lelah, sang kakak berkata,
“Ayo bangun, kita latihan lagi!”
Sambil menunjukkan muka letih namun tetap mencoba untuk semangat, Alisson pun menjawab,
“Baik, pria tua! Lihat aku! Aku mungkin bertubuh kecil, tapi aku akan tetap mengalahkanmu!”
Menurut Alisson, momen tersebut terus berlangsung selama dia masih berlatih dengan sang kakak. Itu dianggapnya sebagai momen luar biasa dan tak terlupakan.
Setelah menjalani latihan keras, Alisson hanya berharap kalau klubnya saat itu mau bersabar untuk menunggunya tumbuh. Dan, Tuhan nampaknya mendengar do’a Alisson.
Selain kualitasnya yang semakin bertambah, sebuah keajaiban datang. Saat itu tingginya yang semula hanya 170 cm tumbuh menjadi 187 cm. Alisson yang masih berusia 16 tahun pun mulai dilirik pelatih untuk dijadikan kiper andalan.
Keajaiban Alisson tidak sampai disitu saja. Saat dirinya masih bermain bola di pantai, ia melewatkan 5 panggilan telefon dari kakeknya. Seketika, ia merasa takut apabila sesuatu terjadi pada keluarganya.
Namun setelah mengangkat telefon dari sang kakek, ia mendapat kabar yang cukup mengejutkan. Saat itu, kakeknya berkata,
“Hei bocah, pulang kerumah sekarang!”
Alisson pun menjawab,
“Ada apa? Apakah terjadi sesuatu dirumah?!”
Kakeknya lantas menyambung,
“Tidak, tidak,.. kamu lolos ke Timnas Brasil U17!”
Alisson tidak percaya begitu saja karena sang kakek merupakan sosok yang dikenal humoris dan gemar sekali bercanda. Untuk memastikan, Alisson lari selama 30 menit dari pantai menuju rumah. Sesampainya dirumah, ia lalu bergegas mengecek website resmi Timnas Brasil. Setelah itu, barulah ia percaya kalau Timnas Brasil benar-benar memanggilnya.
Tangis Alisson seketika pecah. Ia merasa terharu dan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Mampu meraih cita-citanya sebagai kiper Timnas Brasil, Alisson benar-benar mempersebamhkan itu untuk sang kakak.
Dia ingat betul ketika masih latihan bersama, kakaknya menjadi sosok yang tidak mau kalah. Artinya, sang kakak adalah sosok yang kompetitif. Namun hal itulah yang justru membuat Alisson menjadi pemain bermental baja.
Dia merasa sangat beruntung memiliki kakak seperti Muriel. Setiap kali ia memakai kostum Timnas Brasil, dia selalu mengingat saat-saat berlatih bersama sang kakak.
Menutup kisah perjalanannya dalam menjadi penjaga gawang Timnas Brasil, Alisson punya sebuah pesan untuk sang kakak. Pesan itu berbunyi,
“Kakak, jika kamu membaca ini, ingatlah bahwa Piala Dunia Russia aku persembahkan untukmu. Suksesku adalah suksesmu.”
“Memiliki kakak sepertimu adalah anugerah yang sangat luar biasa.”
Berkat kakaknya, Alisson kini menjadi salah satu kiper terbaik dunia. Dia mampu pentas di gelaran Piala Dunia dan berhasil sumbangkan trofi Liga Champions Eropa bagi Liverpool.
Untuk kakaknya, Muriel, yang kini berusia 32 tahun. Dia kini bertugas sebagai penjaga gawa klub asal Portugal, Belenenses.







