• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Thursday, June 13, 2024
  • Login
  • Home
  • Story
  • Football Stories
No Result
View All Result
FOOTCHAMPION
  • Home
  • Story
  • Football Stories
No Result
View All Result
FOOTCHAMPION
No Result
View All Result
Home CERITA

Persaingan Diego Milito & Gabriel Milito: Keluarga Yang Jadi Musuh

Khairul Anwar by Khairul Anwar
December 11, 2019
in CERITA
0 0
0
Persaingan Diego Milito & Gabriel Milito: Keluarga Yang Jadi Musuh
Share on FacebookShare on Twitter

Salah satu kakak beradik yang paling terkenal dalam sepak bola adalah Diego dan Gabriel Milito. Minggu terakhir mei 2016, dalam pertandingan primera division Argentina menandai pensiunnya Diego Milito yang berusia 36 tahun.

Tidak jauh dari Buenos Aires, Gabriel Milito, adik Diego ditunjuk sebagai manajer Club Atlético Independiente. Sejenak, salah satu pasangan saudara kandung sepak bola yang paling menarik kembali ke tempat semuanya dimulai.

Lahir di Bernal, Argentina, Diego lebih dulu melihat indahnya dunia pada 12 juni 1979, sedangkan Gabriel muncul ke permukaan 15 bulan kemudian tepatnya pada 7 september 1980. Kedua anak ini menjelma menjadi bocah laki-laki yang gemar memainkan si kulit bundar.

Meskipun lebih muda, namun Gabriel lebih dulu menjalani karir profesional ketika pada 1997 memperkuat Independiente. Di sisi lain Diego menjalani karir profesional pertamanya dua tahun kemudian dengan membela Racing Club.

Perlu diketahui bahwa Kedua tim yang dibela tersebut merupakan tim yang memiliki rivalitas tinggi bertajuk clásico de Avellaneda. Tak heran bila persaingan saudara ini begitu panas. Dari 1999 hingga 2003, Diego dan Gabriel Milito menjadikan Avellaneda sebagai urusan keluarga.

Di rekrut Racing Club saat berusia 20 tahun dan dijuluki El Princípe karena kemiripannya dengan legenda Uruguay Enzo Francescoli, Diego menghabiskan awal-awal karirnya sebagai ujung tombak klub.

Di kota yang sama, Gabriel adalah bek tengah yang mapan, berprestasi dan sudah diangkat menjadi kapten Independiente meski usianya masih 22 tahun. Di usia yang sama ia membawa Independiente keluar sebagai juara liga Argentina.

Dengan dilandasi semangat membela tim masing-masing, keduanya mengesampingkan hubungan darah ketika berada di atas lapangan. Pada Derby Avellaneda pertama, baik Diego atau Gabriel saling beradu, saling jegal dan saling mengintimidasi. Dalam laga itu, Gabriel harus melihat kakaknya menerima kartu merah.

Derby kedua terdapat orang tua mereka dan pacar masing-masing yang memutuskan untuk pulang meski laga baru berjalan di menit-menit awal. Pasalnya, mereka tidak bisa melihat orang yang mereka cintai bertempur di lapangan, mengejek dan beradu fisik satu sama lain.

Setelah hampir empat tahun terlibat persaingan sengit dengan rivalitas panas. Keduanya lalu pindah dari Amerika Selatan ke Eropa pada tahun 2003, dan sejak itu mereka hanya sesekali sebagai musuh, membenci sementara dan saling menghargai sebagai rekan satu tim.

Pada Juli 2003, Real Madrid menjadi klub besar pertama yang mengabaikan Milito bersaudara. Gabriel yang saat itu belum pulih sepenuhnya dari cedera lutut tidak diterima oleh Los Blancos, Gabriel akhirnya dipinang oleh Real Zaragoza.

Sementara, kakaknya masih berada di Argentina ketika Gabriel di tunjuk sebagai kapten di Real Zaragoza. Setelah tak ada minat dari klub besar untuk memboyong Diego. Genoa yang saat itu bermain di Serie B tidak melewatkan kesempatan untuk merekrutnya di akhir tahun 2003.

Tidak butuh waktu lama bagi Diego. Sepanjang satu setengah musim bersama Genoa, ia mencetak 33 gol dalam 59 penampilan, dan memahkotai perjalanan musim 2004/05 dengan mencetak dua gol dalam kemenangan 3-2 di kandang sendiri melawan Venezia.

Kemenangan tersebut mengukuhkan gelar Serie B yang sekaligus membuat Genoa promosi ke Serie A setelah satu dekade. Namun, terdapat kontroversi tuduhan pengaturan skor dalam laga itu, Venezia dianggap tidak terlalu serius dalam laga itu yang menyebabkan Genoa dengan mudah meraih gelar serie B.

Setelah dilakukan Investigasi, Gelar serie B Genoa dicabut dan mereka dijatuhi hukuman turun kasta ke Serie C. Sementara, Diego Milito lolos dari tuduhan, dan di saat yang bersamaan ia sedang mengurus kepindahannya ke Real Zaragoza.

Musim 2005/06, Diego akhirnya resmi berseragam Zaragoza dan untuk pertama kalinya pula ia akan bermain bersama sebagai rekan setim dengan adiknya, Gabriel. Pada musim pertamanya, Diego keluar sebagai pencetak gol terbanyak klub. Termasuk empat gol dalam semifinal Copa del Rey 2006 melawan Real Madrid.

Diego menambah jumlah golnya di musim 2006/07, ia hanya berselisih dua gol di bawah pencetak gol terbanyak La Liga, Ruud van Nistelrooy. Meski begitu, Gabriel-lah yang memenangkan banyak pujian karena penampilannya yang mengesankan.

Performa memuaskan Gabriel menarik minat Frank Rikjaard, pelatih Barca kala itu. Hingga akhirnya Gabriel memutuskan untuk berlabuh di Los Cules pada juli 2007. Di sana, Gabriel menjadi pemain reguler di musim pertamanya.

Namun di musim keduanya, Gabriel sama sekali tidak bermain karena masalah cedera parah yang ia alami kala bertanding melawan MU di Old Trafford dalam semifinal liga champions musim 2007/08.

Setelah setahun lebih tidak bertanding, Gabriel kembali untuk pertandingan kompetitif pada 5 januari 2010 dalam laga melawan Sevilla. Di sisi lain, setelah menjabat kapten Zaragoza sama seperti adiknya, Diego berlabuh ke Inter Milan di musim panas 2009.

Musim perdana Diego di Inter dilalui dengan sensasional, Ia mencetak 30 gol dari 52 pertandingan di semua ajang. Kemudian, dua gol Diego di final Liga Champions juga mengukuhkan treble yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk Inter Milan. Di tahun yang sama, Diego juga membantu Inter menjuarai Copa Italia dengan mencetak 1 gol saat Inter memenangkan laga dengan skor 3-1 di final kontra Palermo.

Dalam perjalanannya meraih trofi liga champions, Diego sempat berhadapan dengan adiknya di fase semi final ketika Inter menghadapi Barca di leg kedua yang dihelat di Camp Nou.

Sayangnya, Gabriel hanya bertahan di babak pertama, tetapi selama 45 menit itu kedua bersaudara itu dengan liar saling beradu kehebatan. Akhirnya Diego lah yang tersenyum, meski timnya kalah 1-0, namun Inter unggul agregat gol dari Barca untuk melaju ke final.

Setelah hanya 16 kali tampil bersama Barca di musim 2010/11, Gabriel kembali ke Argentina untuk memperkuat klub lamanya, Independiente. Namun, Seringnya cedera membuat Gabriel harus memutuskan gantung sepatu pada tahun 2012.

Sedangkan, setelah bersinar di bawah langit Italia, Diego juga kembali ke klub lamanya, Racing Club pada tahun 2014 sebelum memutuskan pensiun dua tahun kemudian.

Di level tim nasional, Gabriel mengoleksi caps sebanyak 35 kali dan mencetak 1 gol. Sedangkan Diego mencetak 4 gol dari 24 penampilan. Selama berkarir sebagai pesepak bola, kedua pemain ini telah mengumpulkan total 21 trofi.

Khairul Anwar

Khairul Anwar

Next Post
Kisah Robinho Gagal Ke Chelsea Gara-Gara Kostum

Kisah Robinho Gagal Ke Chelsea Gara-Gara Kostum

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with us

  • 135 Followers
  • 61.3k Followers
  • 200k Subscribers
  • 23.9k Followers
  • Trending
  • Comments
  • Latest

The Biography of Robert Lewandowski

April 2, 2019
Mengapa Hanya Ada Tiga Kali Pergantian Pemain ?

Mengapa Hanya Ada Tiga Kali Pergantian Pemain ?

August 1, 2019

The Life Story of N’Golo Kante

February 28, 2019

Why Football Players Shave their Leg-hairs

April 25, 2019

Super Bowl 2017: Here’s How Many People Watched the Super Bowl

0

What is good from Frenkie de Jong?

0

A Life Story of Paulo Dybala

0

Who is actually Ole Gunnar Solskjaer?

0

Super Bowl 2017: Here’s How Many People Watched the Super Bowl

April 15, 2020

Arsenal and Sutton communities teams deepen bonds

April 14, 2020

Lance Armstrong Is Facing a $100 Million Lawsuit From the U.S. Government

April 13, 2020

McLaren’s F1 reboot needs to be successful for the sake of the sport

April 12, 2020

Recommended

Super Bowl 2017: Here’s How Many People Watched the Super Bowl

April 15, 2020

Arsenal and Sutton communities teams deepen bonds

April 14, 2020

Lance Armstrong Is Facing a $100 Million Lawsuit From the U.S. Government

April 13, 2020

McLaren’s F1 reboot needs to be successful for the sake of the sport

April 12, 2020

About Us

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

Read more

Categories

  • Basketball
  • BERITA BOLA
  • BIOGRAFI
  • Boxing
  • CERITA
  • Cycling
  • Football
  • Football Stories
  • Formula 1
  • Golf
  • Moto GP
  • Story
  • Tennis
  • Uncategorized

Tags

acmilan Ajax argentina Barcelona biography brazil Champions League chelsea filippoinzaghi footballstar Football Stories Football Story intermilan italy juventus liga champions lionelmessi liverpool luissuarez manchester city manchester united manchesterunited mariobalotelli messi MMA MotoGP 2017 mourinho MU neymar pemain terbaik premierleague premier league realmadrid real madrid ronaldinho ronaldo rumor transfer Super Bowl The Presidents Cup UFC US Sports Valentino Rossi worldcup Zlatan Ibrahimovic zlatanibrahimovic

Recent News

Super Bowl 2017: Here’s How Many People Watched the Super Bowl

April 15, 2020

Arsenal and Sutton communities teams deepen bonds

April 14, 2020

© 2024 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Story
  • Football Stories

© 2024 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In